Pmiigusdur.com-Acara yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) ini dimulai pada pukul 09.00 WIB dan dibuka oleh MC. Jumat, 7 November 2025 | Theater Planetarium.
Selanjutnya moderator, Abhista Janitra, memberikan pengantar mengenai pentingnya peringatan HAKTP sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap kekerasan berbasis gender yang masih marak terjadi. Dengan lebih dari 85 peserta, suasana diskusi berlangsung aktif dan penuh antusiasme.
Materi pertama disampaikan oleh Ibu Dewi Khurun Aini, M.A., yang menekankan bahwa banyak bentuk kekerasan seperti gaslighting, body shaming, pengendalian berlebihan, dan tekanan psikis lain sering tidak dianggap sebagai kekerasan padahal memberi dampak mental jangka panjang. Beliau juga menjelaskan alasan korban kerap memilih diam, mulai dari rasa takut, stigma, hingga tekanan dari lingkungan. Proses pemulihan penyintas dijelaskan sebagai perjalanan yang panjang dan membutuhkan dukungan, serta bagaimana penyintas dapat bangkit dan menjadi penggerak perubahan ketika memperoleh ruang aman.
Materi kedua disampaikan oleh Ibu Witi Muntari, M.Pd., yang memaparkan definisi kekerasan berbasis gender dari perspektif hukum dan pendampingan. Beliau menyoroti fenomena victim blaming yang masih mengakar kuat di masyarakat serta langkah-langkah praktis ketika mendampingi korban, seperti memastikan keamanan, mengumpulkan bukti, dan menghubungi lembaga pendamping seperti LRC KJHAM dan P2TP2A. Beliau juga membahas kekerasan berbasis online yang semakin meningkat dan memiliki dampak traumatis yang sama beratnya dengan kekerasan langsung. Dalam penjelasannya, Ibu Witi menekankan peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang mampu menciptakan lingkungan kampus yang aman dan responsif terhadap kekerasan.
Sesi tanya jawab berjalan hangat dengan pertanyaan seputar hambatan pelaporan kekerasan, mekanisme pendampingan, penanganan cyber harassment, hingga pentingnya kolaborasi kampus, lembaga hukum, dan organisasi masyarakat. Para pemateri menegaskan bahwa gerakan anti kekerasan hanya dapat berjalan efektif jika melibatkan banyak pihak dan didukung kesadaran kolektif.
Acara ditutup dengan pesan singkat dari pemateri mengenai pentingnya empati, ruang aman, dan keberanian untuk bersuara, terutama dalam momentum HAKTP. Moderator kemudian menutup acara pada pukul 12.00 WIB. Keseluruhan kegiatan berlangsung lancar dan memberikan dampak yang positif bagi peserta.
Reporter : Nadia
Editor : Aidil



0 Komentar