Dok. Khusus


Mensoal Tewasnya Seorang Ayah di Tabanan, Bali dan Retaknya Wajah Keadilan di Negri Kita

Jumat dini hari, 24 Juli 2026. Di sebuah dusun kecil, Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali, seorang laki-laki berinisial KD kedapatan mengambil seekor ayam aduan milik salah seorang warga.

Ia tidak pernah sampai ke meja hijau. Sebelum polisi tiba, warga yang sudah lama resah karena maraknya kehilangan ternak, menghakiminya sendiri di tempat. KD tewas dengan luka robek di kepala dan lebam di sekujur tubuh. Motornya dibakar.

Yang bikin hati teriris bukan cuma kekerasannya, tapi siapa yang ditinggalkan: seorang istri, dan tiga anak. Salah satunya masih kelas 1 SD. Videonya yang tengah menangis histeris di depan jenazah ayahnya, tersebar ke mana-mana, bikin publik berempati sekaligus kecewa terhadap fenomena ini. Bagaimana mungkin, di sebuah negri (yang katanya) negara hukum, nyawa manusia menjadi lebih murah dari seekor ayam?

Bukan Sekadar "Warga yang Tersulut Emosi"

Mungkin, kalau konotasinya ditujukan "warga yang kelewat emosional" memang akan selesai begitu saja, tapi kenyataannya fenomena kasus main hakim sendiri terhadap terduga pencuri seperti motor, HP, dan barang lainnya terus berulang di berbagai daerah. Itu tandanya ada yang jauh lebih dalam ketimbang sekadar "amarah spontan".

Ada dua hal yang biasanya bertumbukan dalam kasus semacam ini:

Pertama, tekanan ekonomi yang mendesak orang mencuri. Ketika kebutuhan hidup yang tidak terjamin dan negara nihil menyongsong kesejahteraan rakyatnya, sebagian orang terpaksa ambil jalan pintas untuk sekadar bertahan hidup. Mencuri seekor ayam biasanya bukan soal keserakahan, tapi soal dapur yang harus ngebul.

Kedua, hilangnya kepercayaan warga pada aparat penegak hukum. Ketika masyarakat meyakini lapor ke polisi bukan sebuah solusi dan peristiwa pencurian keluar-masuk begitu saja, sementara kerugian warga tidak mendapatkan perhatian juga, maka kesabaran itu yang kemudian pecah sehingga konklusinya adalah "bermain"  nyawa.

Dua hal ini saling mengunci. Negara absen di satu sisi (gagal menyejahterakan), dan absen di sisi lain (gagal menegakkan hukum yang dipercaya). Warga jadi terjebak menyelesaikan sendiri persoalan yang sebenarnya bukan kewenangan mereka.

Fenomena ini sebenarnya sudah lama dipetakan dalam ilmu sosial. Sosiolog Émile Durkheim menyebutnya _anomie_, kondisi ketika norma dan ikatan sosial di masyarakat goyah, sehingga aturan formal kehilangan daya cengkeramnya. Robert K. Merton melanjutkan gagasan ini dengan menunjukkan bahwa penyimpangan sering lahir dari jarak antara apa yang didambakan orang (hidup layak, rasa aman) dengan sarana sah yang tersedia untuk meraihnya. Sementara tindakan main hakim sendiri sendiri masuk pada kategori yang oleh para ahli disebut _vigilantisme_, sebuah kekerasan kolektif yang muncul justru karena masyarakat tidak lagi percaya institusi hukum formal bisa memberi rasa aman.

Ironi yang begitu menohok : Seekor Ayam vs Triliunan Rupiah.

Jika diamati, historis dari fenomena berdarah hari ini lebih pilu rasanya jika keduanya disandingkan, bagaimana mungkin Seorang Ayah yang terpaksa mencuri seekor ayam harus menghembuskan nafas terakhirnya di TKP, sedangkan banyak kita saksikan juga ratusan hingga ribuan koruptor yang merugikan negara hanya duduk manis di ruang sidang, difoto tersenyum, lalu menjalani hukuman penjara yang tidak ada drama pemukulan atau pengeroyokan terhadap koruptor tersebut. 

Ironi ini bukan cuma soal rasa keadilan yang terluka. Filsuf John Rawls pernah mengatakan, keadilan sejati diukur dari bagaimana sebuah tatanan memperlakukan kelompok yang paling rentan artinya bukan yang paling berkuasa. Kalau ukuran itu dipakai, penegakan hukum kita jelas timpang : tumpul ke atas dan tajam ke bawah, sebagaimana sering dikritik pakar hukum Satjipto Rahardjo, bahwa hukum semestinya dibuat untuk manusia, bukan manusia yang dipaksa tunduk kaku pada hukum.

Bagaimana Perhatian Stakeholder Negara?

Kepala Desa Sidatapa, I Made Sutama, tempat KD tinggal sempat menyampaikan duka mendalam dan mengingatkan warganya. "kalau ada dugaan pelanggaran, laporkan ke pihak berwajib, jangan main hakim sendiri sampai menghilangkan nyawa" . Tidak salah karena itu semestinya jadi pegangan bersama.

Namun imbauan itu rasanya kurang kalau tidak dibarengi kehadiran negara yang lebih nyata: program pemberdayaan ekonomi desa yang benar-benar sampai ke akar rumput, penegakan hukum yang cepat dan bisa dipercaya untuk kasus-kasus kecil sekalipun, serta rasa aman yang nggak cuma jadi jargon di baliho kampanye.

Kalau negara terus lambat hadir, jangan heran kalau tragedi semacam ini akan terus berulang dengan wajah korban yang berbeda-beda, tapi akar masalah yang itu-itu saja.

 Sikap Kita sebagai Agent of Change 

Menjadi bagian dari masyarakat yang selalu berpijak pada nilai keadilan, ada beberapa hal yang perlu terus disuarakan:

a. Usut tuntas kasus pengeroyokan ini secara transparan, tanpa mengabaikan hak keluarga korban.

b. Perkuat jaring pengaman sosial dan pemberdayaan ekonomi di desa-desa, agar kemiskinan tidak terus melahirkan kejahatan-kejahatan kecil yang berujung tragedi.

c. Edukasi hukum ke masyarakat, bahwa menyelesaikan dugaan tindak pidana adalah kewenangan aparat, bukan ruang untuk main hakim sendiri.

d. Tidak  membiarkan kritik soal timpangnya hukum berhenti di kolom komentar. Simpati yang viral hari ini harus dikonversi jadi kesadaran kritis yang terus disuarakan, bukan sekadar tren yang lewat begitu saja.


Sumber: 

Kompas.com (dikutip melalui STEKOM.ac.id), "Seorang Ayah Tewas di Bali Setelah Dituduh Mencuri Ayam, Polisi Tetapkan Lima Tersangka Pengeroyokan"

Detik.com, "Ayah Tewas Dimassa, Anak Pencuri Ayam di Bali Nangis Histeris"

Tribunnews.com, "Polisi Ekshumasi Jenazah Terduga Pencuri Ayam di Bali, 5 Tersangka Dijerat Pasal Pengeroyokan"

Tribunnews.com, "Kisah Pilu Bocah Perempuan di Tabanan Bali, Ayah Tewas Dikeroyok setelah Diduga Curi Ayam"

TribunBatam.id, "Fakta Baru Kasus Pencuri Ayam Tewas Dikeroyok Massa di Tabanan, Ternyata Residivis"

Liputan6.com, "Momen Pilu Anak Tangisi Ayahnya Tewas Dikeroyok Usai Dituduh Curi Ayam"

FAJAR.co.id, "Ketika Lapar Memaksa Mencuri, Negara Dinilai Absen, Bocah Perempuan Histeris Bapaknya Tewas Dikeroyok"


Penulis: Nadiyas

Editor: Aidil