Semarang(22/10)-www,pmiigusdur.com-Komunitas Studi Surau (KSS) kembali mengadakan diskusi Rabu sore di Depan Dekanat lama FITK IAIN Walisongo. 

Diskusi sore itu mengangkat tema tentang fenomena budaya populer. Hadir sebagai pemantik sahabat Eko Supraptio selaku senior di PMII Abdurrahman Wahid yang sekarang aktif di ICES Semarang sebagai Direktur. 

Budaya Populer mulai berkembang di era 1950an pasca berakhirnya perang Dunia II. Bersamaan dengan itu pula diproklamirkan kemerdekaan negara-negara yang pada era Perang Dunia terjajah. Budaya Populer berakar dari 2 kata yakni,budaya dan populer. 

Ada 3 makna dari budaya menurut William Raymond budayawan dari Inggris.
  1. Budaya dapat digunakan untuk perkembangan intelektual, spiritual dan estetika
  2. Pandangan masyarakat dalam periode dan kelompok tertentu
  3. Budaya itu merujuk pada karya dan praktek intelektual terutama aktifitas estetika.
Dimasa lampau orang yang dapat menguasai 3 aspek dalam definisi budaya yang
pertama (Intelektual, spiritual dan estetika) adalah orang yang berbudaya. 

Sedang menurut definisi yang kedua bahwa setiap pandangan masyarakat di setiap masa sebuah peradaban dalam jangka waktu tertentu merupakan suatu kebudayaan.  

Output dari praktek intelektual yang memuat unsur estetika masuk dalam kriteria budaya yang ketiga menurut Raymond. 

Salah satu contoh dari karya praktek budaya yakni Opera merupakan hasil (produk) dari praktek budaya dalam kelompok dan periode tertentu yang berkembang dan bertahan sampai sekarang meski mengalami penyesuaian.

Kemudian kita perlu memahami maksud dari kata populer. Populer dalam kaitannya dengan Budaya populer memuat 4 ciri-ciri khusus:
a. banyak disukai orang
b. Karya yang dihasilkan untuk menyenangkan orang lain
c. Karya berkualitas rendah
d. Dibuat oleh orang untuk dirinya sendiri

Budaya populer mulai berkembang di Indonesia sejak media massa (cetak dan elektronik) berkempang pesat. Erat kaitan antara budaya populer dan media massa karena peran media sangat penting untuk menyebarluaskan budaya populer ke pelosok negeri. 

Budaya populer tumbuh sumbur di negara-negara berkembang. Budaya populer ini merupakan satu bentuk penjajahan modern yang dilakukan negara-negara maju. Motif utama dari budaya populer tidak lain dan tidak bukan adalah faktor keuntungan materi semata. 

Didalam budaya populer sangat jarang kita temukan nilai-nilai ideal, moral dan edukasi. Budaya populer masuk dalam beragam bidang kehidupan, mulai dari musik, fashion, media, makanan dan minuman. Budaya populer dikampanyekan negara untuk menjajah negara berkembang.

Di era globalisasi, ketika tidak ada lagi sekat antar tiap negara budaya pop kian digemari. Mudahnya akses informasi disegala penjuru dunia menjadikan “serangan” budaya populer sulit diantisipasi negara-negara berkembang. Budaya populer adalah ancaman nyata bagi lestarinnya budaya asli jika tidak ada solusi sebagai antisipasi untuk meredam dampak negatifnya.

Budaya Populer vis a vis Budaya Tinggi

Terdapat 2 tipologi  kebudayaan yakni,  budaya populer dan budaya tinggi. Budaya tinggi merupakan tipologi budaya yang berkebalikan dari budaya populer. Budaya tinggi didasari dari dua unsur; moral dan estetika. Motif lahirnya budaya tinggi adalah untuk melestarikan nilai moral dan estetika. Ini berkebalikan dengan budaya populer yang berorientasi pada keuntungan ekonomi.  

Ada makna-makna filosofis dari produk budaya tinggi karena memuat nilai, norma dan berharga. Sebagai contoh produk dari kebudayaan tinggi adalah tradisi larung sesaji. Larung sesaji lahir dari proses panjang dinamika kebudayaan. Pada akhirnya budaya ini bertahan sampai sekarang. Budaya tinggi memerlukan proses yang lama sehingga akan bertahan lama dan mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat yang ada dimana budaya tersebut lahir dan berkembang.

Lahir dan berkembangnya budaya populer menjadi ancaman bagi keberlangsungan budaya tinggi. Meski budaya tinggi sudah sedemikian kuat mengakar dalam kehidupan masyarakat, budaya populer tetap menjadi ancaman serius yang siap menggantikan eksistensi budaya tinggi. 

Pelan tapi pasti budaya populer mulai menggerus eksistensi budaya tinggi. Disinilah peran media yang menjadikan budaya populer ngetrend dikalangan remaja dan pemuda. Dua kriteria tersebut paling rentan menjadi obyek sasaran budaya populer. Belum stabilnya penguasaan emosi, tingkat pengetahuan sejarah yang masih minim dan rasa ingin tahu terhadap hal baru masih sangat tinggi. 

Budaya tinggi pada akhirnya menjadikan terjadinya kelas sosial. Kelas sosial tersebut mulai dari high class sampai low class. Pendapat tersebut dikemukakan sosiolog Perancis Pierre Bordeau. Sedang menurut Antonio Gramschi , Filsuf yang termasyhur lewat teori hegemoni mengatakan bahwa media massa sengaja menciptakan budaya populer untuk menciptakan hegemoni yang mempengaruhi publik. Menurut dia hegemoni budaya tidak lain merupakan penjajahan terselubung. Westernisasi dan Amerikanisasi adalah kampanye-kampanye budaya populer untuk menghegemoni masyarakat.

Hari ini kita dihadapkan benturan antara budaya tinggi (budaya yang sudah mengakar dalam kehidupan kita) dengan budaya populer. Budaya tinggi bisa juga bergeser ketika masyarakat menganggap produk budaya tinggi sudah tak relevan dilaksanakan. 

Solusi agar budaya tinggi tidak hilang yaitu dengan melakukan modifikasi dan penyesuaian diri dengan perkembangan zaman tanpa mengurangi unsur dan nilai-nilai moral, spiritual dan estetika yang terkandung. Serangan-serangan budaya populer mustahil kita redam keseluruhan. Karena itu, perlu ada penyaring agar dampak-dampak negatif budaya populer bisa kita minimalisir. Kecintaaan terhadap budaya asli juga perlu ditingkatkan agar budaya tersebut lestari. (Ghoffar)