“Merepotkan! Harusnya aku sampai kontrakan sekarang, mengunci kamar, membaca yang ingin kubaca.”

Sam terperangkap hujan di kosan kawan sebangku sepulang kuliah. Kosan bau nan berantakan, kecuali dindingnya yang putih, penuh hiasan ayat. Beberapa buku berserakan di meja, Sam pilah satu sampai sembilan.

“Baca saja, Sam! Jika suka, bawalah pulang.”

Pemandangan bahang nan kering bagi Sam, nuansa Gurun Alabasta. Enam buku bergenre perdebatan agama, tiga lainnya buku motivasi hidup sukses. 

“Aku sedang tidak ingin, Har.”

Buka pintu, keluar kamar, masih hujan --masuk kamar, tutup pintu, rebahan --berulang-ulang. Satu jam membosankan. Har kawannya sudah terlelap, Sam pun menguap.

Duarrr! Seketika kantuk menghilang, mata Sam berbinar, melotot mengamati buku di atas lemari samping meja. Semakin melotot semakin merah sampulnya. Melotot lagi, mulai jelas judulnya, “MADILOG” mahakarya Tan Malaka melambai-lambai.

Dua jam, cukup untuk Sam sampai halaman 47. Tepat setelah BAB II, bab yang konon katanya menguji iman. Dua jam pula, cukup bagi Har mengistirahatkan letihnya.

“Sam, kau ingin menjadi kafir! enyahkan buku itu sekarang juga!”

Har adalah satu dari sekian banyak teman Sam yang taat beragama, sekaligus anti paham materialisme. Materialisme adalah komunis, komunis adalah PKI, PKI anti Islam dan Pancasila, kira-kira begitu yang subur di otaknya. Har berterus terang, buku itu hasil curian dari adik sepupunya yang mulai goyang ke kiri – ke kiri – ke kiri.

 “Aku harus pergi, ada keperluan mendesak, Har.”

Sebulan lalu, Sam pernah melihat Sin, adik sepupunya Har. Ketika demonstrasi besar-besaran menolak penggusuran rumah warga di Kota Sisa. Sin tergolong pelopor pecahnya demonstrasi, perancang strategi, dan perumus tuntutan kepada wakil rakyat yang hampir saja kehormatannya hilang. Kali ini Sam kebelet berbincang dengannya, bukan alasan parasnya yang merayu-rayu, namun sudah cukup jelas bukan.

“Masih juga hujan, dan yang lebih penting kita harus berdebat, setelah baca buku itu pikiranmu wajib mugoladoh direhabilitasi.”

“Pecahkan saja kepala saya.” Dalam hati kecil Sam. “Aku akan kembali nanti, secepatnya.”

Sin adalah mahasiswi sekolah tinggi ekonomi di kampus pinggir Pusat Kota, dekat dengan Kota Sisa. Hampir setiap waktu ia habiskan sore dan malam di kedai bantaran sungai. Kedai kopi yang mempertemukan mahasiswa dengan rakyat, menjadi saksi bisu rencana-rencana besar insureksi. Diam-diam Sin mengoleksi buku-buku kiri lalu disimpannya di etalase kedai untuk dibaca. Maklum, lingkungan keluarganya rata-rata tim kanan mentok.

“Kenalkan, namaku Sam. Aku igin duduk di sini, berdua saja.” Bertemu di kedai.

Sam dan Sin berkenalan, layaknya orang-orang biasa berkenalan. Sesuatu yang membedakan, membikin mesra, adalah percakapan yang sesekali dijeda join-an lintingan tembakau petani Kota Sisa.

Semakin larut membuat mereka akrab. Hubungan emosional terbangun, waktu yang tepat untuk memercikkan api, memulai pembahasan intim.

“Aku membaca buku milikmu, kutemukan di kosnya Har, kakak sepupumu.”

“Sudah kuduga, pasti ulah Mas Har gecul itu mencurinya dari tas.”

“Aku ingin mendengar pendapatmu tentang materialisme.”

Bermunculan banyak nama tokoh dari bibir Sin: Sartre, Nietzsche, Marx & Engels, Feurbach, Epikurus, hingga Demokritus (filsuf Pra-Socrates). Menurut Sin, sendi dari materialisme adalah berbicara kenyataan, matter, bukan hanya ide absolut yang sadar tanpa ada batasan lalu pasrah pada suatu angan-angan. Sejarah terus berkembang karena sesuatu yang nyata. Perselisihan kelas itu nyata: bangsawan dengan sudra, majikan dengan budak, tuan tanah dengan petani, borjuis dengan proletar.

“Si Gecul itu seenaknya melabeli cewek matrealis itu sukanya makan sampai muntah, minum sampai mabuk, atau tertawa sampai uratnya putus”.

“Bukankah saat ini sudah menjadi pandangan umum, Sin.”

“Si Gecul itu songong pikirannya mampet. Dia enggak mau tahu, padahal varian materialisme itu ada materialisme dialektis atau historis. Kata itu dibangun murni oleh semangat perlawanan rakyat bawah. Dan yang memakai, ya dia yang melawan.”

Sin berbicara lebih banyak daripada Sam. Walaupun lebih muda dua semester, pikirannya bisa jadi lebih maju empat semester.

Lalu-lalu Sin diam, Sam memikirkan apa-apa yang baru keluar dari bibir Sin. Semangat perlawanan kelas tertindas yang tertanam pada kata materialisme, telah jauh bergeser. Materialisme yang sekarang adalah dia yang sekadar anti-Tuhan, menghamba pada benda: kemewahan duniawi, duniawi, dan duniawi.

“Kata materialisme teramat mengancam…”

“Kelas yang berkuasa. Hingga kata itu harus dibunuh.” Sam menyahut cepat.

"Sejarah nyata tidak menghendaki kemenangan orang-orang yang melawan."

“Aku mengkhawatirkan Si Gecul yang kagok itu dalam perjalanan intelektualnya. Dia adalah pembelajar ulung namun enggan membuka pikiran seluas-luasnya. Bolehkah aku memintamu, Sam. Bantulah Mas Har berpikir lebih bijak.”

Sam menceritakan sosok Har yang seringkali menyandarkan segala perkara kepada takdir Tuhan. Kemiskinan, penggusuran, kebakaran, tanpa kita sadari adalah rencana Tuhan sendiri. Manusia perlu menganggapnya lumrah. Manusia fokuslah memperbaiki diri untuk masa depan yang laik.

“Kenapa tidak kau saja, Sin. Aku tidak secerdas dirimu.”

Selebaran kertas dikeluarkan Sin dari dalam tasnya. Berisikan analisa bisnis-bisnis industri dan pertambangan yang berdampak buruk bagi rakyat dan lingkungan. Lengkap, mulai praktik ijon pemerintahan oligarki, pemalsuan izin dan laporan, hingga data korban terdampak. Data yang sungguu nyata.

“Sajikan ini padanya, berbicara kenyataan yang terjadi adalah berbicara materialisme dialektik. Perselisihan kelas masih subur, itu nyata dan sebab manusia. Kita harus melawan, Sam. Sebaik-baiknya, Sehormat-hormatnya.” Sin yang meyakinkan.

__________

Har yang sedari tadi ngotot ingin merehabilitasi pikiran Sam, Sam yang berjanji akan balik secepatnya telah memiliki senjata, dan Sin yang menaruh harap pada Sam. Apa yang kemudian terjadi adalah dengan menilik paragraf di bawah, syukur jiks memunculkan interpretasi siapa saja yang sempat membaca.

Kalimat terakhir terlontar dari bibir Sin sebelum jarak mereka melebihi 9 meter adalah…

“Jika Si Gecul itu masih tertutup, lantangkanlah… Tuhanmu mengharamkan tindakan yang menyengsarakan manusia, Tuhanmu menganjurkanmu menjadi sebaik-baiknya manusia, yaitu yang bermanfaat bagi manusia, dan Tuhanmu menuntutmu untuk merubah nasib suatu kaum.” Sin tertawa-tawa.


Oleh: az-ad
Ilustrasi: az-ad