Oleh: Zianika Farikhatul Latifa

Freepik.com

Desember terasa seperti halaman terakhir

dari buku yang penuh tinta campur aduk:

ada cerah, ada kusut, ada yang belum selesai.


Di sini,

aku melihat bagaimana hal tertentu

kadang berubah arah

dari dekat menjadi asing,

dari hangat menjadi diam.


Ada luka kecil yang kubiarkan kering,

ada rindu pada masa ketika semuanya sederhana,

sebelum dunia dewasa memaksa kami

memilih jalan masing-masing.


Tapi Desember tak hanya membawa sedih.

Ia mengajari aku

untuk menyayangi diri sendiri lebih dulu.


Aku mulai senang

karena bisa berdiri tanpa bergantung,

karena bisa menata hidup

dengan lebih tenang dan lebih tulus.


Aku tahu, menjadi dewasa

bukan tentang siapa yang tinggal,

tapi bagaimana aku tetap baik

meski banyak yang berubah.


Dan di antara lampu-lampu akhir tahun,

aku menyelipkan harapan sederhana:

semoga esok memberi ruang

untuk hal baru,

pelajaran baru,

dan diriku yang terus berkembang

ke arah yang lebih baik.