Desember terasa seperti halaman terakhir
dari buku yang penuh tinta campur aduk:
ada cerah, ada kusut, ada yang belum selesai.
Di sini,
aku melihat bagaimana hal tertentu
kadang berubah arah
dari dekat menjadi asing,
dari hangat menjadi diam.
Ada luka kecil yang kubiarkan kering,
ada rindu pada masa ketika semuanya sederhana,
sebelum dunia dewasa memaksa kami
memilih jalan masing-masing.
Tapi Desember tak hanya membawa sedih.
Ia mengajari aku
untuk menyayangi diri sendiri lebih dulu.
Aku mulai senang
karena bisa berdiri tanpa bergantung,
karena bisa menata hidup
dengan lebih tenang dan lebih tulus.
Aku tahu, menjadi dewasa
bukan tentang siapa yang tinggal,
tapi bagaimana aku tetap baik
meski banyak yang berubah.
Dan di antara lampu-lampu akhir tahun,
aku menyelipkan harapan sederhana:
semoga esok memberi ruang
untuk hal baru,
pelajaran baru,
dan diriku yang terus berkembang
ke arah yang lebih baik.




0 Komentar