Oleh: M. Azka Ulin Nuha
Kabut pagi masih
menyelimuti sawah-sawah Langen Jaya. Angin dingin menari pelan di atas daun
pisang yang basah. Di sana, terdapat sebuah rumah kayu yang catnya sudah mulai
pudar warnanya. Di dalam rumah itu didapati sebuah kehidupan romantik.
Adalah Nuha, seorang bungsu
laki-lakinya Bu Siti dan Pak Sabar, ia sedang duduk di meja makan. Matanya tak
berhenti, mengikuti gerak-gerik ibunya, dari dapur ke halaman belakang,
menjemur dan membereskan druwang juga potelot milik Dek Nuha. Ibu
Siti, seorang perempuan yang menjadi tulang punggung sejak Pak Sabar pernah
jatuh sakit. Ibunya bak montor mabur yang tak pernah mendarat hingga
kini sampai nanti...
Tiba-tiba...Bu Siti
menyahut.
“Dek, ayo dimaem, jangan
bening kui. Wes mhareb nanti telat ngaji,” suara Ibu Siti
hangat namun berenergi. Nuha pun hanya mengangguk, menyeruput jangan bening
buatan ibunya.
Nuha, anak bungsu yang tak
sendiri. Ia memiliki dua kakak perempuan, yaitu Nuhyati dan Adiba yang telah
beranjak belia. Nuha hidupnya kerap dalam pantauan berkelindan Ibunya. Kasih
sayang ibunya padanya erat meni, bak sangkar emas bernilai tinggi. Ia
selalu diingatkan untuk berhati-hati, dan tiada kata berkelahi.
Ironisnya, muncul keinginan
Nuha yang unik dan sederhana: ia ingin punya adik. Ia ingin merasakan jadi
kakak, ingin punya teman main di rumah, ingin membagi permen dan perhatiannya.
Tetapi, permintaannya selalu dijawab dengan elusan lembut dengan kalimat, “Orak
usah Dek. Wis mengko ono anak e kakak mbarang”
Singkat cerita...
Dino Setu awan, mentari terik menyapa.
Nuha asyik menggambar mobil impian di depan rumah. Tiba-tiba, dari rumah
sebelah, anak Bu Lasmi, yaitu Si Ramaduk, berlari dan tanpa sengaja menabrak
meja kecil tempat Nuha menggambar. Potelotnya berhamburan, air minum di
sampingnya tumpah membasahi kertas yang digoresnya.
“Aduh! Duk!” teriak Nuha
marah.
Ramaduk, yang lebih kecil,
hanya melongo saja.
Nuhyati yang melihat dari
jendela berteriak, “Ibu! Ramaduk karo Nuha kenopo kae?”
Ibu Siti keluar dengan
tenang. Matanya melihat Nuha yang merana padam, Ramaduk yang hendak menangis,
dan gambar yang telah lama digadang hasilnya pun rusak. Kecamuk Nuha mendidih.
Ia ingin memarahinya, “Jalok dikepruk, po piye!” ujar Nuha.
Tapi Ibu Siti mendekati
mereka, merangkul dan berkata lembut, “Lho, Ramaduk, kenopo kok
glilapan? Wes, maapan ayo, cah loro”
Ramaduk mengangguk pelan, terasa
malu. “Mberuh, Bu. Aku jek ngoyak jangkrik entesan.”
Ibu Siti lalu menoleh ke
Nuha. “Dek, gambare wes apik. Ibu yakin nek digambar maneh, bakal luwih
apik. Ramaduk kan gak sengaja. Sing uwes yo porah wae, rak kaiki.”
“Tapi, Bu...!” protes Nuha,
dadanya sesak. Kenapa harus mengalah? Selalu saja masalaj harus di-porah-kan,
dan rentan harus memaklumkan.
Ibuk tiba-tiba mengalihkan
perhatian, anaknya yang gegabah itu.
“Dek, nek orak ayo melu
Ibuk wae, nggawa jangan gori ke rumah Makde Sop!” pinta Ibu Siti, guna
mengalihkan perhatian.
Di perjalanan, Ibu Siti
bercerita. “Makdhe Sop kuwi neng kene dewekan. Kadang wong podo ngrepoti,
utowo njaluk tulung, padahal wes tuo, nanging iseh kuat rogo-jiwo. Ibu delok
Makdhe Sop gak pernah nesu. Mung senyum”. “Saingoho, sing penting slamet,”
begitulah Makde. Ngertenono Iku wong tua bijaksana, Dek.”
Nuha mendengarkan. Ia
ingat, kadang ia melihat Makdhe Sop memberi makanan pada anak-anak kampung yang
justru pernah mencuri puhung dari pekarangannya. “Lah, kok dikasih,
Dhe?” tanyanya suatu hari. “Wis tak paringi wae, mbok menowo do ngeleh,”
jawab Makdhe Sop sambil terkekeh.
Setelah dari Makdhe Sop,
kemudian Ibuk dan Nuha sampai di rumah. Tak terduga, tiba-tiba mendengar
dentuman geliat. Adiba dan Nuhyati bertengkar hebat soal setriwel yang
hilang. Nuhyati menuduh Adiba meminjam tanpa izin. Suara mereka
cetar-membahana.
Ibu Siti tidak langsung
membentak atau memihak salah satu dari mereka. Ia memanggil mereka ke ruang
tengah. “Adiba, Nuhyati. Mberuh sapa sing bener. Tapi nek’e sampeyan
terus-terusan benci, ibu lara atine. Gak enak ndelok anak-anak e pada gak akur.
Daripada sampeyan sikut-sikutan, luwih apik cah loro maaf-maafan, rak pantes
ngono kui, soal tata kramane, lan Kakak ya ngapurono.”
Kedua kakaknya diam, saling
memandang. Pertengkaran pun reda. Ibu Siti tidak banyak berteori tentang
memaafkan, ia menunjukkan cara memadamkan api permusuhan dengan kesabaran dan
ajakan untuk berlapang dada.
Pelajaran paling berat bagi
Nuha terjadi menjelang akhir pekan ini. Masih bermuram durja teringat renjana.
Ia sangat menyayangi pohon
pisang kawesto di belakang rumah dekat temboknya, yang sudah ia rawat
sedari kecil. Pisangnya hampir matang, kuning ranum. Ia berkhayal memetiknya
bersama ‘adik’ yang tak kunjung ada. Tiba-tiba, anak-anak dari kampung lain, ledek-ledek
naik pagar, memetik hampir semua pisang yang ranum, ditinggalkan yang masih sepet-sepet.
Nuha histeris. Ia sedih
sejadi-jadinya. “Ibu! Gedhange dicolong! Aku rak trimo!” Ia emosi, jiwa ngamuknya
meronta-ronta.
Ibu Siti membiarkannya
meluapkan emosi. Setelah tenang, Ibu Siti mengajaknya duduk di belakang rumah
yang sudah oyong. “Dek, nek’e gedhang e dipetik isih ijo, sia-sia. Tapi
nek’e wis kuning lan legi, dipetik wong liyo, ya minimal wonge orak ciloko,
sing ikhlas wae, dongakne apik wae. Ibu gak ngajari koe dadi wong kalahan. Ibu
ngajari koe, nek’e urip iki rak cuman mung soal gedhang. Nek’e sampeyan
keblinger benci, atimu rasane pait koyo sawo sing iseh atos. Rak enak. Pu’o koe
disakiti, coba tanya: apa mereka sengaja nggeluti atimu? Mesti mberuh. Wong
anak-anak, kae yo liar wae.”
“Tapi perih, Bu,” bisik
Nuha, air matanya mengalir lagi.
“Iyo, perih. Nanging
lara ati iki bakal mari. Mungkin kebencian sing ditanam, iku koyo
nieng wesi, bakal ngerusak atimu dhewe.”
Ibu Siti mengelus rambut
Nuha.
“Ibu pengen bungsunya Ibu iki
dadi wong sing atine luas, sing isine panganan gak cuman kanggo dhewe, tapi
bisa dikongkon karo liyan, mbesuk nek uwes mondok ya kudu ngono, ojo pelit karo
kancane.”
Waktu terus berjalan. Malam
mendentingkan anginnya. Tanggal 21 Desember telah tiba. Tepat hari ulang tahun
Ibu. Nuha dan kakak-kakaknya, dengan uang celengannya, membelikan Ibu
roti dan lengo klentik kanggo masak-masak sesuk. Pak Sabar yang
sudah agak membaik kesehatannya, menyempatkan, membuatkan ibu kursi kayu untuk
mengajar ngaji kepada anak-anak sekitar kala sore biasanya.
Selepasnya, tak pelak,
suasana rumah pun menjadi lebih terasa hangat, tak seperti biasanya.
Saat hendak tidur, Ibu Siti
memanggil Nuha. “Besok tanggal 22 Desember, Dek, adalah Hari Ibu Nasional, guyonannya.
Ibu malah ulang tahun tanggal 21. Lucu ya? Dina wingi wes hari ibu dewe,
saiki malah hari ibu meneh diperingati.”
Hahaha, begitulah kelakar
Ibunya...
Nuha mulai termenung dalam tempurung
hati dalamnya.
“Hatiku terasa hambar,
dengan senyum yang berserakan. Bukan soal diperingatinya, tapi bagaimana
menjadikan setiap harinya, untuk hari-hari ibu dan ibu serta ibu lagi. Kita tak
pungkir, setelah lama beranjak dewasa, orang-orang terkadang lupa untuk
mengkhususkan diri, hari-hari penuh bersama Ibu.”
“Menjadi anaknya, itu tak
gampang, kudu sabar seperti bapak, kudu kuat semacam ibu, kudu
pinter kayak kakak, dan harus teliti seperti halnya mbak.”
Nuha mengandai ke atas
langit imajinya. Tadi, ia melihat Makdhe yang memaafkan, melihat ibunya yang
mendamaikan, melihat dirinya yang tak pernah dibolehkan marah dengan
kanca-kancanya.
Nuha, matanya terbuka dari
segelnya.
“Ibu,” gumam Nuha.
Ibu tersenyum, matanya
berkaca-kaca. Ia memeluk Nuha erat. “Pinter tenan anak e Ibu. Besok,
kita masak bebarengan.”
Esok harinya, tanggal 22
Desember, Hari Ibu. Nuha bangun paling awal. Ia mengambil sapu dan langsung menyapu
pelan halaman rumah, membersihkan daun-daun yang berserak, persis seperti yang
selalu dilakukan ibunya setiap pagi.
Dari jendela, Ibu Siti
melihatnya. Sebuah pelajaran tentang mengalah, memaafkan, dan menyayangi tanpa
menderu, akhirnya tak hanya sampai di kata-kata, tapi meresap dalam tindakan
nyata. Dan di sudut hati Nuha, muncul tekad, untuk menjadi manusia laksana Ibu,
Sang Motor Mabur dan jangan bening; sederhana, menyegarkan, dan
bisa dinikmati bersama, walau meski kadang harus porah atau mengalah.
Demi keharmonisan, kehangatan yang lebih besar, apa lagi kalau bukan, sebuah
kekeluargaan.




0 Komentar