Freepik.com.

Oleh: M. Azka Ulin Nuha

Kabut pagi masih menyelimuti sawah-sawah Langen Jaya. Angin dingin menari pelan di atas daun pisang yang basah. Di sana, terdapat sebuah rumah kayu yang catnya sudah mulai pudar warnanya. Di dalam rumah itu didapati sebuah kehidupan romantik.

Adalah Nuha, seorang bungsu laki-lakinya Bu Siti dan Pak Sabar, ia sedang duduk di meja makan. Matanya tak berhenti, mengikuti gerak-gerik ibunya, dari dapur ke halaman belakang, menjemur dan membereskan druwang juga potelot milik Dek Nuha. Ibu Siti, seorang perempuan yang menjadi tulang punggung sejak Pak Sabar pernah jatuh sakit. Ibunya bak montor mabur yang tak pernah mendarat hingga kini sampai nanti...

Tiba-tiba...Bu Siti menyahut.

“Dek, ayo dimaem, jangan bening kui. Wes mhareb nanti telat ngaji,” suara Ibu Siti hangat namun berenergi. Nuha pun hanya mengangguk, menyeruput jangan bening buatan ibunya.

Nuha, anak bungsu yang tak sendiri. Ia memiliki dua kakak perempuan, yaitu Nuhyati dan Adiba yang telah beranjak belia. Nuha hidupnya kerap dalam pantauan berkelindan Ibunya. Kasih sayang ibunya padanya erat meni, bak sangkar emas bernilai tinggi. Ia selalu diingatkan untuk berhati-hati, dan tiada kata berkelahi.

Ironisnya, muncul keinginan Nuha yang unik dan sederhana: ia ingin punya adik. Ia ingin merasakan jadi kakak, ingin punya teman main di rumah, ingin membagi permen dan perhatiannya. Tetapi, permintaannya selalu dijawab dengan elusan lembut dengan kalimat, “Orak usah Dek. Wis mengko ono anak e kakak mbarang

Singkat cerita...

Dino Setu awan, mentari terik menyapa. Nuha asyik menggambar mobil impian di depan rumah. Tiba-tiba, dari rumah sebelah, anak Bu Lasmi, yaitu Si Ramaduk, berlari dan tanpa sengaja menabrak meja kecil tempat Nuha menggambar. Potelotnya berhamburan, air minum di sampingnya tumpah membasahi kertas yang digoresnya.

“Aduh! Duk!” teriak Nuha marah.

Ramaduk, yang lebih kecil, hanya melongo saja.

Nuhyati yang melihat dari jendela berteriak, “Ibu! Ramaduk karo Nuha kenopo kae?”

Ibu Siti keluar dengan tenang. Matanya melihat Nuha yang merana padam, Ramaduk yang hendak menangis, dan gambar yang telah lama digadang hasilnya pun rusak. Kecamuk Nuha mendidih. Ia ingin memarahinya, “Jalok dikepruk, po piye!” ujar Nuha.

Tapi Ibu Siti mendekati mereka, merangkul dan berkata lembut, “Lho, Ramaduk, kenopo kok glilapan? Wes, maapan ayo, cah loro

Ramaduk mengangguk pelan, terasa malu. “Mberuh, Bu. Aku jek ngoyak jangkrik entesan.”

Ibu Siti lalu menoleh ke Nuha. “Dek, gambare wes apik. Ibu yakin nek digambar maneh, bakal luwih apik. Ramaduk kan gak sengaja. Sing uwes yo porah wae, rak kaiki.

“Tapi, Bu...!” protes Nuha, dadanya sesak. Kenapa harus mengalah? Selalu saja masalaj harus di-porah-kan, dan rentan harus memaklumkan.

Ibuk tiba-tiba mengalihkan perhatian, anaknya yang gegabah itu.

Dek, nek orak ayo melu Ibuk wae, nggawa jangan gori ke rumah Makde Sop!” pinta Ibu Siti, guna mengalihkan perhatian.

Di perjalanan, Ibu Siti bercerita. “Makdhe Sop kuwi neng kene dewekan. Kadang wong podo ngrepoti, utowo njaluk tulung, padahal wes tuo, nanging iseh kuat rogo-jiwo. Ibu delok Makdhe Sop gak pernah nesu. Mung senyum”. “Saingoho, sing penting slamet,” begitulah Makde. Ngertenono Iku wong tua bijaksana, Dek.”

Nuha mendengarkan. Ia ingat, kadang ia melihat Makdhe Sop memberi makanan pada anak-anak kampung yang justru pernah mencuri puhung dari pekarangannya. “Lah, kok dikasih, Dhe?” tanyanya suatu hari. “Wis tak paringi wae, mbok menowo do ngeleh,” jawab Makdhe Sop sambil terkekeh.

Setelah dari Makdhe Sop, kemudian Ibuk dan Nuha sampai di rumah. Tak terduga, tiba-tiba mendengar dentuman geliat. Adiba dan Nuhyati bertengkar hebat soal setriwel yang hilang. Nuhyati menuduh Adiba meminjam tanpa izin. Suara mereka cetar-membahana.

Ibu Siti tidak langsung membentak atau memihak salah satu dari mereka. Ia memanggil mereka ke ruang tengah. “Adiba, Nuhyati. Mberuh sapa sing bener. Tapi nek’e sampeyan terus-terusan benci, ibu lara atine. Gak enak ndelok anak-anak e pada gak akur. Daripada sampeyan sikut-sikutan, luwih apik cah loro maaf-maafan, rak pantes ngono kui, soal tata kramane, lan Kakak ya ngapurono.”

Kedua kakaknya diam, saling memandang. Pertengkaran pun reda. Ibu Siti tidak banyak berteori tentang memaafkan, ia menunjukkan cara memadamkan api permusuhan dengan kesabaran dan ajakan untuk berlapang dada.

Pelajaran paling berat bagi Nuha terjadi menjelang akhir pekan ini. Masih bermuram durja teringat renjana.

Ia sangat menyayangi pohon pisang kawesto di belakang rumah dekat temboknya, yang sudah ia rawat sedari kecil. Pisangnya hampir matang, kuning ranum. Ia berkhayal memetiknya bersama ‘adik’ yang tak kunjung ada. Tiba-tiba, anak-anak dari kampung lain, ledek-ledek naik pagar, memetik hampir semua pisang yang ranum, ditinggalkan yang masih sepet-sepet.

Nuha histeris. Ia sedih sejadi-jadinya. “Ibu! Gedhange dicolong! Aku rak trimo!” Ia emosi, jiwa ngamuknya meronta-ronta.

Ibu Siti membiarkannya meluapkan emosi. Setelah tenang, Ibu Siti mengajaknya duduk di belakang rumah yang sudah oyong. “Dek, nek’e gedhang e dipetik isih ijo, sia-sia. Tapi nek’e wis kuning lan legi, dipetik wong liyo, ya minimal wonge orak ciloko, sing ikhlas wae, dongakne apik wae. Ibu gak ngajari koe dadi wong kalahan. Ibu ngajari koe, nek’e urip iki rak cuman mung soal gedhang. Nek’e sampeyan keblinger benci, atimu rasane pait koyo sawo sing iseh atos. Rak enak. Pu’o koe disakiti, coba tanya: apa mereka sengaja nggeluti atimu? Mesti mberuh. Wong anak-anak, kae yo liar wae.

“Tapi perih, Bu,” bisik Nuha, air matanya mengalir lagi.

Iyo, perih. Nanging lara ati iki bakal mari. Mungkin kebencian sing ditanam, iku koyo nieng wesi, bakal ngerusak atimu dhewe.”

Ibu Siti mengelus rambut Nuha.

“Ibu pengen bungsunya Ibu iki dadi wong sing atine luas, sing isine panganan gak cuman kanggo dhewe, tapi bisa dikongkon karo liyan, mbesuk nek uwes mondok ya kudu ngono, ojo pelit karo kancane.”

Waktu terus berjalan. Malam mendentingkan anginnya. Tanggal 21 Desember telah tiba. Tepat hari ulang tahun Ibu. Nuha dan kakak-kakaknya, dengan uang celengannya, membelikan Ibu roti dan lengo klentik kanggo masak-masak sesuk. Pak Sabar yang sudah agak membaik kesehatannya, menyempatkan, membuatkan ibu kursi kayu untuk mengajar ngaji kepada anak-anak sekitar kala sore biasanya.

Selepasnya, tak pelak, suasana rumah pun menjadi lebih terasa hangat, tak seperti biasanya.

Saat hendak tidur, Ibu Siti memanggil Nuha. “Besok tanggal 22 Desember, Dek, adalah Hari Ibu Nasional, guyonannya. Ibu malah ulang tahun tanggal 21. Lucu ya? Dina wingi wes hari ibu dewe, saiki malah hari ibu meneh diperingati.

Hahaha, begitulah kelakar Ibunya...

Nuha mulai termenung dalam tempurung hati dalamnya.

“Hatiku terasa hambar, dengan senyum yang berserakan. Bukan soal diperingatinya, tapi bagaimana menjadikan setiap harinya, untuk hari-hari ibu dan ibu serta ibu lagi. Kita tak pungkir, setelah lama beranjak dewasa, orang-orang terkadang lupa untuk mengkhususkan diri, hari-hari penuh bersama Ibu.”

“Menjadi anaknya, itu tak gampang, kudu sabar seperti bapak, kudu kuat semacam ibu, kudu pinter kayak kakak, dan harus teliti seperti halnya mbak.”

Nuha mengandai ke atas langit imajinya. Tadi, ia melihat Makdhe yang memaafkan, melihat ibunya yang mendamaikan, melihat dirinya yang tak pernah dibolehkan marah dengan kanca-kancanya.

Nuha, matanya terbuka dari segelnya.

“Ibu,” gumam Nuha.

Ibu tersenyum, matanya berkaca-kaca. Ia memeluk Nuha erat. “Pinter tenan anak e Ibu. Besok, kita masak bebarengan.”

Esok harinya, tanggal 22 Desember, Hari Ibu. Nuha bangun paling awal. Ia mengambil sapu dan langsung menyapu pelan halaman rumah, membersihkan daun-daun yang berserak, persis seperti yang selalu dilakukan ibunya setiap pagi.

Dari jendela, Ibu Siti melihatnya. Sebuah pelajaran tentang mengalah, memaafkan, dan menyayangi tanpa menderu, akhirnya tak hanya sampai di kata-kata, tapi meresap dalam tindakan nyata. Dan di sudut hati Nuha, muncul tekad, untuk menjadi manusia laksana Ibu, Sang Motor Mabur dan jangan bening; sederhana, menyegarkan, dan bisa dinikmati bersama, walau meski kadang harus porah atau mengalah. Demi keharmonisan, kehangatan yang lebih besar, apa lagi kalau bukan, sebuah kekeluargaan.