Oleh: Zianika Farikhatul Latifa

Freepik.com

Ada sekumpulan langkah muda

yang meniti hari-hari panjang

serupa embun yang mencari

tempat paling sunyi untuk jatuh.


Di antara hiruk yang tak terlihat,

mereka menyimpan gelisah

yang tidak pernah sepenuhnya terucap

gelisah tentang masa depan

yang masih diselubungi cahaya tipis.


Namun waktu,

dengan gurat lembut yang sulit diterka,

pelan-pelan mengajari mereka

bahwa setiap keraguan

dapat berubah menjadi kekuatan

jika dipeluk dengan keberanian kecil.


Di sela kesibukan yang merayap,

tumbuhlah keinginan

untuk menjadi manusia yang lebih utuh:

yang pikirannya jernih,

hatinya tidak mudah goyah,

dan langkahnya mengerti arah

meski tidak semuanya terlihat jelas.


Begitulah harapan itu hidup

bukan dalam teriakan,

melainkan dalam bisikan halus

yang mengalir di balik diam.


Ia mengatur jarak antara mimpi dan kenyataan,

menautkan keduanya dengan benang halus

yang hanya dipahami oleh mereka

yang terus bertahan,

meski perjalanan terasa panjang.