Oleh: Zianika Farikhatul Latifa
Ada sekumpulan langkah muda
yang meniti hari-hari panjang
serupa embun yang mencari
tempat paling sunyi untuk jatuh.
Di antara hiruk yang tak terlihat,
mereka menyimpan gelisah
yang tidak pernah sepenuhnya terucap
gelisah tentang masa depan
yang masih diselubungi cahaya tipis.
Namun waktu,
dengan gurat lembut yang sulit diterka,
pelan-pelan mengajari mereka
bahwa setiap keraguan
dapat berubah menjadi kekuatan
jika dipeluk dengan keberanian kecil.
Di sela kesibukan yang merayap,
tumbuhlah keinginan
untuk menjadi manusia yang lebih utuh:
yang pikirannya jernih,
hatinya tidak mudah goyah,
dan langkahnya mengerti arah
meski tidak semuanya terlihat jelas.
Begitulah harapan itu hidup
bukan dalam teriakan,
melainkan dalam bisikan halus
yang mengalir di balik diam.
Ia mengatur jarak antara mimpi dan kenyataan,
menautkan keduanya dengan benang halus
yang hanya dipahami oleh mereka
yang terus bertahan,
meski perjalanan terasa panjang.




0 Komentar