Di sebuah kota kecil yang sunyi, di antara rerimbunan pohon jati dan jalan-jalan berdebu, hidup seorang remaja perempuan bernama Nisa. Usianya baru enam belas tahun, namun sorot matanya menyimpan luka yang lebih tua dari usianya. Ia tinggal bersama ibunya, Bu Rina, seorang penjahit yang bekerja keras demi memenuhi kebutuhan sehari-hari sejak ayah Nisa pergi tanpa jejak lima tahun lalu.
Nisa dikenal pendiam di sekolah. Ia jarang bergaul, lebih sering menyendiri di pojok perpustakaan sambil membaca novel lama yang sudah lusuh. Namun di balik kesunyiannya, ia menyimpan rahasia yang tak berani ia ungkapkan pada siapa pun: setiap malam, ia menjadi sasaran amarah ibunya yang tak terkendali.
Awalnya hanya kata-kata kasar “Dasar anak tak berguna!” atau “Kalau bukan karena kamu, ibu pasti sudah punya kehidupan yang lebih baik!” namun seiring waktu, kata-kata itu berubah menjadi tamparan, cubitan, bahkan pukulan. Bu Rina, yang dulunya lembut dan penuh kasih, kini seperti orang lain. Alkohol dan kesepian telah menggerogoti jiwanya, mengubah cinta menjadi kebencian yang salah sasaran.
Nisa mencoba memahami. Ia tahu ibunya lelah, kecewa, dan kesepian. Tapi tubuhnya mulai penuh memar, suaranya mulai serak karena menahan tangis, dan hatinya perlahan mati rasa. Suatu malam, setelah dipukul karena "lupa" mencuci baju, Nisa berlari ke kamar mandi. Di depan cermin, ia menatap wajahnya yang bengkak, matanya yang sembab, dan bekas jari-jari tangan di lengannya. Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri: "Apakah aku memang pantas diperlakukan begini?"
Keesokan harinya di sekolah, Nisa tak sengaja menjatuhkan bukunya. Seorang siswa laki-laki bernama Arman, yang dikenal suka mengganggu teman perempuan, menyenggol pundaknya sambil tertawa. “Hai, si bisu! Muka kamu kayak habis dihajar, ya?” Teman-temannya ikut tertawa. Biasanya Nisa hanya diam dan pergi, tapi kali ini sesuatu dalam dirinya meledak. Ia menatap Arman dengan mata yang tajam dan berkata lantang, “Pergi dari sini. Kalau kau berani sentuh aku lagi, aku akan laporkan ke guru.” Arman terkejut. Teman-temannya diam. Nisa berjalan pergi tanpa menoleh tapi kali ini, kepalanya tegak.
Kejadian itu menjadi titik balik. Nisa mulai membuka diri pada Bu Lusi, guru BK-nya yang selama ini mencurigai ada sesuatu yang tak biasa dari sikap Nisa. Dengan suara gemetar, Nisa akhirnya bercerita. Tak mudah. Air matanya tumpah, tubuhnya gemetar, tapi ia bicara. Bu Lusi mendengarkan dengan hati hancur, lalu segera menghubungi dinas perlindungan anak.
Beberapa minggu kemudian, Bu Rina dipanggil ke sekolah. Di ruang BK, dengan ditemani pekerja sosial, ia akhirnya sadar betapa jauh ia telah jatuh. Ia menangis bukan karena marah, tapi karena menyesal. Ia tak menyangka kekecewaannya pada kehidupan telah ia salurkan pada anak yang paling ia cintai.
Nisa tidak langsung kembali ke rumah. Ia tinggal sementara di rumah perlindungan sambil menjalani pendampingan psikologis. Perlahan, luka-lukanya mulai sembuh bukan hanya di kulit, tapi di jiwa. Ia belajar bahwa cinta sejati tak pernah menyakiti. Dan bahwa diam bukanlah kekuatan, tapi keberanian untuk bersuara itulah yang menyelamatkan. Di hari pertama sekolah setelah libur panjang, Nisa kembali ke kelasnya. Kali ini, ia tak lagi duduk di pojok. Ia duduk di tengah, di antara teman-teman barunya. Dan ketika ia melewati cermin di toilet sekolah, ia tersenyum bukan pada bayangannya, tapi pada dirinya sendiri: perempuan muda yang akhirnya belajar mencintai dirinya.
Penulis : Rosyinta Nur Kholifatun Ni'mah
Editor : Nadiyya




0 Komentar