Semarang, pmiigusdur.com - Dua lagu Indonesia Raya dengan versi berbeda terdengar mengalun pada diskusi buku Tan Malaka: Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia karya Harry APoeze (66), di kampus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro, Pleburan, Senin (18/2) malam.

Versi pertama merupakan gubahan Tan Malaka, dan versi resmi yang saat ini dijadikan lagu negara merupakan versi keempat setelah ada revisi.

Tan Malaka (1897-1949) merupakan Pahlawan Nasional yang dikukuhkan Presiden Soekarno pada tahun 1963. Menurut Harry yang meneliti tokoh kelahiran Sumatera Barat selama 41 tahun ini, sejarah Tan Malaka tenggelam pada Era Soekarno, dan dihilangkan saat memasuki Orde Baru. ”Puluhan tahun sejarahnya dihilangkan.

Tak ada sama sekali di buku sejarah tentang pahlawan yang menyinggung Tan Malaka,” kata Harry di hadapan ratusan peserta diskusi yang memenuhi ruangan. Harry adalah peneliti Belanda yang fasih berbahasa Indonesia. Dikatakan, babak penting penelitian Tan Malaka tak lama lagi terkuak.

Salah satunya pemindahan makamnya di Desa Selopanggung Kediri, Jatim, ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata Jakarta Selatan. ”Pengakuan secara nasional jenazah itu sebagai Tan Malaka dan dimakamkan di Kalibata adalah puncak karir dari penelitian ini,” ujarnya.

Harry meminati telaah Tan Malaka sejak mahasiswa dengan produk skripsi, tesis, dan disertasi. Dia berfokus pada tokoh masa awal revolusi Indonesia. Penelitiannya menemukan babak baru ketika berhasil menemukan tandatanda makamnya yang selama puluhan tahun tidak diupayakan pencariannya oleh pemerintah.

”Wartawan Surabaya yang membawa penelitian saya tidak percaya. Seorang bule tidak mungkin tahu makam tokoh yang sangat misterius,” kenangnya. Wartawan itu, kata Harry, akhirnya mengroscek ke lokasi dan menemukan informasi lebih baik darinya.

Berbekal informasi itu upaya penggalian dikerjakan, tetapi mendapat kendala berupa pendanaan dan persiapan tim. Salah satu tokoh yang membiayai upaya penggalian, kata Harry, adalah almarhum Taufik Kiemas. ”Saat ini upaya pencocokan DNAmasih berlangsung. Hampir selesai 100 persen. Terkendala materi untuk DNA,” kata pria kelahiran Leiden Belanda 20 Oktober 1947.

Diskusi Meriah
Buku tersebut merupakan seri keempat dari enam seri karya Harry tentang Tan Malaka. Diterbitkan berkala oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia bekerjasama dengan KITLVJakarta.

Dua seri lagi diterbitkan tahun depan. Diskusi berlangsung dengan sound system sederhana. Bahkan Harry dalam pemaparan materi dan tanya jawab, tanpa menggunakan pengeras suara. Meskipun berlangsung lesehan dan berdesak-desakan, sejumlah tokoh hadir tanpa diundang.

Di antaranya Gubernur Ganjar Pranowo, Rektor Undip Prof Soedharto, dan Wakil Ketua DPRD Jateng, Bambang Sadono. Panitia dari Komunitas Pecinta Sejarah (KPS), komunitas Hysteria, dan didukung Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang, mengalami sejumlah hambatan. Beberapa hari sebelum diskusi bergulir penolakan demi penolakan datang dari setidaknya enam elemen masyarakat.

Satu elemen mendemo panitia yang rencana menggelar di markas Hysteria di Jalan Stonen 29 Kelurahan Bendan Ngisor Kecamatan Gajahmungkur, pada siang hari sebelum acara digelar. Keterbatasan persiapan diskusi dan lokasi ternyata tidak menyurutkan peserta dan narasumber.

Diskusi ditutup dengan mengumandangkan lagu Indonesia Raya. Garjar bertindak sebagai derijen. Harry sangat terkesan pada diskusi di Semarang ini. ”Fenomena ini akan saya masukkan dalam buku seri kelima tentang respons masyarakat terhadap diskusi Tan Malaka,” ujar Harry.

Usai diskusi, Harry mengungjungi gedung eks Sarikat Islam di Kampung Gendong Kelurahan Sarirejo, Semarang Timur. Ini merupakan kunjungan pertama setelah mengetahui kisah penyelamatan gedung tersebut dari situs jejaring sosial Youtube.

Harry menuliskan persinggahan Tan Malaka di Semarang pada tahun sekitar 1920-an, dengan mendirikan gedung tersebut untuk sekolah anak-anak miskin dari keluarga buruh.

Sumber: m.suaramerdeka.com