About Me

pmiigusdur

Menghindarkan Pelapukan Bahasa Jawa

Oleh : Muhammad Jauhari Sofi*

Upaya perawatan dan pelestarian Bahasa Jawa dewasa ini tampaknya masih setengah hati dilakukan, baik oleh masyarakat luas maupun pemangku kebijakan di pemerintah daerah. Hal ini terlihat dari minimnya sosialisasi dan implementasi pemakaian Bahasa Jawa di tempat umum dan ruang-ruang terbuka, utamanya dalam bentuk bahasa tulis. Bukan tidak mungkin kenyataan yang demikian ini akan berindikasi pada kemunduran dan pelapukan Bahasa Jawa. 

Bahasa, termasuk Bahasa Jawa di dalamnya, adalah sebuah subjek yang mengalami pertumbuhan dan pelapukan. Bahasa menjalani proses kehidupan dan kematian. Seperti halnya makhluk hidup, proses perubahan merupakan ciri adanya kehidupan. Perubahan yang terjadi dalam suatu bahasa, dalam hal ini, dapat dilihat dari dinamika kosakatanya. Ketika kosakata suatu bahasa berhenti berubah dan berkembang, perlahan ia akan menuju tahap pelapukan dan kematian. 

Dalam sejarahnya, suatu bahasa tidak akan cukup bisa bertahan dan berkembang hanya ditopang oleh penggunaannya dalam komunikasi lisan. Baik komunikasi dalam bentuk lisan maupun tulisan harus berperan saling menguatkan. Bahasa Latin Kuno, misalnya, adalah bahasa yang kini dianggap sudah mati karena ia tidak mengalami perubahan selama hampir 2000 tahun. Kematian Bahasa Latin Kuno diawali dengan ditinggalkannya bahasa tersebut dalam penulisan sebelum akhirnya hilang pula dari pengucapan.

Bahasa Jawa, seperti halnya Latin Kuno, merupakan salah satu bahasa ibu di dunia yang memiliki aspek kesejarahan yang tinggi. Ia telah membumi di wilayah Nusantara jauh sebelum kemunculan dan penyebaran agama-agama ‘moderen’ di Bumi Nusantara. Faktor kekunoan inilah yang dikhawatirkan akan mengganggu eksistensinya manakala harus disanding-hidupkan dengan bahasa-bahasa kekinian. Pada poin ini, Menghindarkan Pelapukan Bahasa Jawa berarti menjauhkan Bahasa Jawa dari gejala-gejala yang membawanya pada proses pelapukan bahasa. 

Dalam konteks Jawa Tengah, sering kita jumpai buku teks pelajaran dan buku pengayaan muatan lokal Bahasa Jawa di sekolah-sekolah berikut silabus dan rencana pembelajarannya. Akan tetapi, jarang kita temui tindak lanjut, ruang implementasi, serta media pendukung pengembangan Bahasa Jawa tersebut di luar sekolah. Agak mengherankan bahwa ternyata apa yang kita pelajari di bangku sekolah kurang mendapatkan ‘sambutan’ di lingkungan luar sekolah. 

Poin awal yang perlu kita cermati adalah apakah Bahasa Jawa telah ditempatkan sebagai bahasa pertama di Jawa Tengah. Sebagaimana kita ketahui, Bahasa Jawa lebih banyak digunakan oleh masyarakat pedesaan. Di daerah perkotaan, masyarakat lebih memilih memakai bahasa nasional dibanding bahasa daerah sebagai bahasa pertama mereka. Poin ini menjadi penting karena ia berimplikasi pada pemilihan cara yang tepat dalam mempelajari suatu bahasa.

Bahasa pertama, atau biasa dikenal dengan bahasa ibu, cenderung dipelajari secara informal –tanpa kelas, buku pegangan, ataupun guru. Ia dipelajari secara alami dan spontan, yaitu seseorang tidak menyadari bahwa ia sedang mempelajari suatu bahasa. Sementara itu, pendekatan pembelajaran bahasa kedua dan bahasa asing lebih sering dilakukan dengan cara-cara formal dan terkontrol. Cara yang demikian ini mensyaratkan adanya sebuah paparan tentang situasi belajar yang berbeda dari cara mempelajari bahasa pertama, mengenai penggunaan kelas dan buku pelajaran, serta peran guru dalam proses pembelajaran. 

Kalaulah Bahasa Jawa telah dianggap sebagai bahasa kedua, pertanyaan yang kemudian muncul adalah seberapa dekat suasana mempelajari bahasa kedua ini dapat dibuat menyerupai suasana pembelajaran bahasa pertama, agar proses belajar bisa berjalan lebih alami dan menyenangkan. 

Belajar dari India
Persoalan tentang eksistensi bahasa daerah di tengah gencarnya tuntutan pemakaian bahasa nasional tidak semata-mata terjadi di Indonesia. Semua negara dengan tradisi multi-bahasa hampir memiliki problem yang serupa. Dari negara-negara tersebut, beberapa negara berhasil melestarikan bahasa daerahnya secara apik, seperti halnya India. Di India, bahasa daerah dan bahasa nasional dapat hidup secara berdampingan. Tentu penulis menyadari ketidaksamaan situasi sejarah perkembangan bahasa di Indonesia dan India. Namun demikian, beberapa langkah nyata dari pemerintah daerah di India sangat mungkin untuk dijadikan bahan percontohan bagi pemerintah daerah Jawa Tengah dalam upaya menjaga bahasa daerah.

Dalam konteks India, setiap pelajar di India diharuskan mempelajari sedikitnya tiga bahasa (three-language formula) di sekolah, yaitu bahasa pertama, kedua, dan ketiga. Bahasa pertama adalah bahasa state atau provinsi setempat, bahasa kedua (bahasa resmi) adalah bahasa Hindi dan Inggris, sementara bahasa ketiga adalah bahasa asing, seperti Perancis atau Jerman. Yang menarik dari tiga formulasi bahasa tersebut adalah langkah-langkah nyata yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam merealisasikannya. Baik bahasa daerah maupun bahasa resmi (Bahasa Hindi dan Inggris) dipakai tidak hanya dalam komunikasi lisan, tetapi juga tulisan. Ketiga bahasa tersebut diperkenalkan dalam berbagai media di tempat-tempat umum, seperti periklanan, koran, pengumuman resmi, petunjuk jalan, dan sebagainya. 

Di negara bagian (provinsi) Andhra Pradesh dan Telangana, misalnya, kita bisa dengan mudah mengamati hampir semua informasi di tempat-tempat umum tertulis dalam multi-bahasa, yaitu aksara Bahasa Telugu dan Hindi (demikian juga Bahasa Inggris). Sebagaimana Bahasa Jawa, Bahasa Telugu memiliki sistem transkripsi tersendiri. Media cetak seperti koran dan majalah di kedua provinsi tersebut juga melayani penulisan berita dalam bahasa Telugu, Urdu, Hindi, dan Inggris.

Peran pemerintah daerah dalam mewujudkan program-program yang lebih nyata dan bukti-bukti fisik sangat penting dilakukan. Hal ini tidak terbatas untuk misi pelestarian dan pengembangan Bahasa Jawa semata, melainkan lebih kepada penyesuaian kharakteristik budaya yang unik dari wilayah geografis tertentu dan menyorot elemen teritorialnya. Bahasa Jawa adalah simbol kebanggaan masyarakat Jawa.

Program nyata dan bukti fisik tersebut dapat berupa penggunaan Aksara Jawa berikut huruf abjad berbahasa Indonesia dalam penulisan nama-nama tempat, iklan, petunjuk jalan, pengumuman, dan lain sebagainya. Poster-poster yang kreatif dan menarik ditampilkan dalam aksara Jawa, pesan-pesan yang inspiratif disisipkan di dalamnya. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat bisa mempelajari dan memakai Bahasa Jawa dengan perasaan senang dan tanpa beban. Dengan demikian, masa depan Bahasa Jawa bisa tetap terjaga kelestariannya.

Kami menyadari bahwa realisasi gagasan ini tidak semudah yang dibayangkan. Akan tetapi, kita terlanjur sepakat bahwa perjalanan ribuan mil mesti dimulai dari satu langkah nyata. Gagasan tersebut memang tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin untuk diwujudkan. 


*Mahasiswa S2 Sastra Inggris di Osmania University, Hyderabad, India

Post a Comment

0 Comments