Ilustrasi Transformasi Diri: pinterest.com

 

Pmiigusdur.com- Dalam perjalanan ke arah pertumbuhan dan perkembangan pribadi, di saat berusaha mencapai potensi penuh seringkali menemukan diri kita lalai dengan keadaan yang menuntut kita untuk melangkah keluar dari zona nyaman. Salah satu kunci utamanya adalah kemampuan untuk menghadapi dan merangkul ketidaknyamanan. Karena Manusia akan berubah dari tempat ke tempat lain, berubah artinya bergerak, bergerak itu sendiri adalah fitrah manusia, baik bergerak secara fisik maupun berfikir.

Seringkali di era transformasi zaman yang semakin canggih ini seluruh kebutuhan manusia dari mulai pekerjaan, komunikasi, dan dunia bisnis, hampir semuanya dikendalikan oleh dunia maya melalui teknologi mesin entah itu Smartphone, komputer, bahkan yang sekarang sedang booming yaitu Si (Artificial Inteligensi). Justru melalui hal-hal yang serba instan ini kita bisa semakin terbantu dan lebih cepat untuk meng-upgrading diri bukan malah sebaliknya, yang justru bergantung penuh pada hal tersebut, yang membuat diri kita berada di lingkaran zona nyaman. Buruknya, ketika semua hal itu tiba-tiba musnah kita tidak mempunyai kemampuan apa-apa.

Tidak sedikit pemuda hari ini yang mau bergerak melawan rasa nyamannya untuk mengambil keputusan melangkah lebih maju melewati tantangan, dan tantangan itu dipastikan adalah hal yang menyiksa dan tidak nyaman. Akan tetapi, ada pepatah "bersusah payah dahulu bersenang-senang kemudian", artinya siklus kehidupan kita adalah dari tidak nyaman ke nyaman, mulai dari sedih ke senang, kerja ke gajian, lapar ke kenyang dan nantinya berputar kembali.

Situasi ketidaknyamanan adalah big power bagi manusia untuk ber-Transformasi diri. Karena naluri manusia, dia akan berubah ketika mereka merasa keadaanya tidak nyaman bukan karena pikirannya yang ingin bertransformasi diri akan tetapi lebih ke perasaan. Maka dari itu, sering kita lihat bahwa banyak sekali konsep maupun teori yang mengajarkan tentang transformasi diri itu kurang efektif karena sebenarnya perubahan diri bukan dari ide (pikiran) melainkan lebih ke keinginan meninggalkan keadaan ketidaknyamanan.

 

Penulis: Faizul Ma'ali

Editor: Husen