Diskusi Mingguan Kader di Edupark Kampus 2 UIN Walisongo, Selasa (07/11/2023). (Bella)

Pmiigusdur.com - Lembaga Kajian dan Penerbitan (LKaP) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Abdurrahman Wahid Komisariat Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo menyelenggarakan Diskusi Mingguan Kader, bertempat di taman EduPark Kampus 2, Selasa, (07/11/2023).

Acara yang mengusung tema “Ki Hajar Dewantara: Prinsip-Prinsip dan Sejarah Pendidikan Taman Siswa pada Masa Awal Pendiriannya”, menghadirkan Demisioner Direktur LKaP periode 2018/2019, Ela Agustina, S.Pd. sebagai pemateri.

Ela menjelaskan bahwa Taman Siswa yang didirikan Ki Hajar Dewantara memiliki makna sebagai tempat bermain.

“Taman Siswa yang didirikan pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta, memiliki makna dalam bahasa Indonesia sebagai tempat bermain dan tempat belajar bagi murid,” ujarnya.

Selanjutnya, Ia juga menyampaikan tujuan didirikannya Taman Siswa yaitu untuk menumbuhkan semangat.

“Taman Siswa juga bertujuan untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dan kemerdekaan di kalangan masyarakat Indonesia,” ucapnya.

Ela juga menjelaskan bahwa prinsip-prinsip pendidikan Taman Siswa telah menjadi pilar-pilar penting dalam perkembangan sistem pendidikan di Indonesia.

“Prinsip-prinsip pendidikan Taman Siswa yang diusung oleh Ki Hadjar Dewantara, seperti Suci Tata Ngesti Tunggal (hak pendidikan yang sama untuk semua) dan Patrap Triloka (peran guru dalam mendidik siswa), telah menjadi pilar-pilar penting dalam perkembangan sistem pendidikan di Indonesia. Prinsip-prinsip ini berfokus pada inklusivitas, pemberian contoh, dan dukungan dalam pendidikan,” ungkapnya.

Menurut  Ela, prinsip-prinsip Taman Siswa dalam pendidikan Indonesia saat ini masih relevan.

“Prinsip-prinsip Taman Siswa tetap relevan dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan peduli terhadap kebutuhan semua siswa di Indonesia. Masyarakat pendidikan harus terus berusaha untuk menjaga warisan berharga ini dan mengaplikasikannya dalam pengembangan pendidikan masa depan,” tuturnya.

Lanjut Ela, Ia juga mengingatkan bahwa Ki Hadjar Dewantara mencetuskan filosofi pendidikan Merdeka Belajar, yaitu momong, among, dan ngemong.

“Ki Hadjar Dewantara mencetuskan filosofi pendidikan Merdeka Belajar yang terdiri dari momong (perawatan dengan tulus dan kasih sayang), among (memberikan contoh baik tanpa paksaan), dan ngemong (proses merawat dan menjaga agar anak mampu mengembangkan dirinya, tanggung jawab, dan disiplin),” pungkas Ela.


Penulis: Qudwati

Editor: Habib Husen