Ilustrasi oleh: Ero

Dalam kenangan masa kecil, terdapat satu peristiwa yang membentuk pandangan hidupku dengan indah. Suatu malam, ayahku mengajakku menonton pertunjukan sulap di pasar malam, menciptakan momen yang tak terlupakan.

Anak: “(dengan wajah penuh antusias) Ayah, aku sangat ingin menonton pertunjukan sulap malam ini!”

Ayah: “(tersenyum) Tentu, Nak. Kita akan mencoba menikmatinya bersama-sama. Mari kita antri untuk membeli karcis,”

Saat antri di depan loket untuk membeli karcis yang antriannya cukup panjang, mataku menyaksikan keluarga sederhana di depan kami. Bapak dan tiga anak. Anak-anak itu tampak bahagia, dari pakaiannya dapat dipastikan bahwa mereka keluarga yang sederhana.

Tiba antrian keluarga sederhana itu harus membayar karcis. Sang bapak merogoh kantong celana, dan terlihat kebingungan. Uangnya tak cukup untuk membayar empat lembar karcis untuk anak-anaknya.

Bapak Keluarga Sederhana: “(merogoh kantong celana dengan wajah penuh kebingungan) Ehm, sepertinya uang kita tidak cukup untuk empat karcis,”

Anak: “(melihat keluarga di depan) Tapi, Ayah. Keluarga di depan kita tampak bingung membayar karcis untuk anak-anak mereka,”

Ayah: “(melihat ke arah keluarga tersebut) Benarkah? Mari kita lihat apa yang terjadi,”

Ibu Keluarga Sederhana: “(menggandeng tangan dua anaknya sambil tersenyum kikuk) Maaf ya, kita memang sedang kesulitan,”

Keluarga sederhana terlihat sedih dan murung, kemudian segera menepi dari panjangnya antrian. 

Ayahku menyaksikannya dan langsung mengambil uang 100 ribu dari dompetnya.

Keajaiban sejati terungkap saat ayah tanpa ragu memberikan bantuan dengan tulus.

Ayah: “(mendekati keluarga tersebut)”

Ayahku langsung menjatuhkan uang itu di samping bapak tiga anak tersebut. Ayahku menepuk pundaknya.

Ayah: “Pak, uang anda jatuh,” katanya.

Bapak itu menoleh, memandang ayahku, dan dia sadar bahwa ayahku ingin membantunya agar dapat membeli empat lembar karcis pertunjukan sulap. Matanya sembab, bibirnya tersenyum, dan dia ambil uang 100 ribu itu sambil berterimakasih.

Bapak Keluarga Sederhana: “(tersenyum dan terharu) Terimakasih, Pak,”

Ibu dan Anak-anaknya pun tersenyum gembira dan kembali ke antrian untuk membeli karcis.

Ayahku pun tersenyum, sembari mundur untuk menghampiriku. Aku lihat bapak itu segera membelikan karcis untuk keluarga kecilnya, mereka tampak sangat bahagia.

Ayahku lantas mengajak aku pulang, kami tidak jadi menonton pertunjukkan sulap. Ternyata, uang ayahku hanya tersisa 100 ribu, dan sudah diberikan kepada keluarga tadi.

Peristiwa itu, seperti mantra ajaib, membuka mataku terhadap kekuatan kebaikan dan kepedulian. Menurutku, kebahagiaan sejati tidak hanya tersirat dalam kilauan sulap, melainkan dalam setiap tindakan kecil saling membantu. 

Setelah momen itu, kami meninggalkan loket tanpa menyaksikan pertunjukan yang begitu dinantikan. Ayahku, dengan senyuman tulus, memberikan pelajaran tentang pentingnya berbagi dan kebaikan hati.

Anak: “(menggenggam tangan ayahnya) Ayah, itu sungguh perasaan yang baik, bukan?”

Ayah: “(sambil tersenyum) Ya, Nak. Bisa memberikan bantuan kepada orang lain adalah kebahagiaan tersendiri,”

Dalam hidupku, itulah pemandangan yang paling menakjubkan. Pemandangan yang jauh lebih indah dibanding pertunjukan sulap di pasar malam manapun. 

--- Percakapan di Rumah ---

Malam itu di rumah, ayah dan aku duduk bersama di ruang tamu, suasana hangat mewarnai percakapan kami. 

Anak: “Ayah, malam itu di pasar malam sungguh luar biasa, ya? Aku masih teringat senyuman tulus keluarga yang telah kita bantu,”

Ayah: “Ya, Nak. Pengalaman itu membuatku merasa hangat di hati. Kita bisa merasakan kebahagiaan yang sejati saat saling membantu sesama,”

Ayah membagikan nilai-nilai hidupnya, menyoroti esensialnya membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan.

Anak: “Ayah, apa yang membuat Ayah begitu senang membantu mereka? Apakah kita tidak akan menonton pertunjukan sulap?”

Ayah: “Nah, Nak, hal itu membuat Ayah bahagia karena membantu orang lain adalah kekayaan yang tak ternilai. Pertunjukan sulap mungkin menyenangkan, tapi kebahagiaan sejati terletak dalam kebaikan dan kepedulian kita terhadap orang lain,”

Anak: “(memikirkan kata-kata Ayah) Jadi, kebahagiaan sejati bukan hanya tentang hal-hal besar seperti sulap, ya?”

Ayah: “Betul, Nak. Terkadang, momen-momen sederhana seperti menyapa dan membantu orang lain memiliki kekuatan magisnya sendiri,”

Anak: “(mengerti) Aku suka ketika Ayah berbagi nilai-nilai hidup. Apa lagi yang bisa kita lakukan untuk merasakan kebahagiaan sejati?”

Ayah: “Kita bisa melibatkan diri dalam lebih banyak tindakan kebaikan, Nak. Misalnya, membantu tetangga, menyumbangkan waktu kita untuk kegiatan sosial, atau hanya dengan menyapa orang yang kita temui sehari-hari,”

Anak: “(semangat) Aku ingin merasakan kebahagiaan sejati itu lagi, Ayah! Bagaimana jika kita mencari lebih banyak kesempatan untuk membantu orang lain?”

Ayah: “(tersenyum) Itu ide yang bagus, Nak. Kita bisa bersama-sama menciptakan kebahagiaan bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk orang lain di sekitar kita,”

Anak: “(bersyukur) Terima kasih, Ayah. Aku bahagia bisa belajar dari Ayah tentang kebaikan dan kebahagiaan sejati,”

Ayah: “(mengelus kepala anaknya) Kamu sudah menjadi anak yang baik, Nak. Semoga kebaikan ini bisa menular dan memberikan dampak positif pada orang lain,”

Ajaran itu membekas dalam ingatanku dan membentuk pandanganku tentang kebahagiaan yang sejati.

-----

Beberapa hari kemudian, kami kembali ke pasar malam, bukan untuk pertunjukan sulap, melainkan untuk menyapa keluarga yang pernah kami bantu. Senyuman tulus dari mereka menggambarkan kekuatan kebaikan dalam merajut ikatan persahabatan yang tak terduga. Pengalaman itu mengajarkanku bahwa kebaikan tidak hanya menciptakan kebahagiaan sesaat, tetapi juga merajut ikatan kuat antar manusia, membawa keindahan dalam sederhana memberikan dan menerima.

Malam itu di pasar malam, setelah menyapa keluarga yang telah kami bantu, kami menghabiskan waktu bersama dalam percakapan hangat. Mereka menceritakan kehidupan sehari-hari, perjuangan, dan mimpi-mimpi kecil yang mereka genggam erat. Kebersamaan itu membuka pintu ke dunia kebahagiaan yang lebih luas, mengajarkan bahwa momen kecil saling membantu memiliki daya magisnya sendiri.

Pesan moral yang ingin kusampaikan dari pengalaman ini adalah bahwa kebahagiaan sejati terletak dalam kebaikan dan kepedulian kita terhadap sesama. Tindakan sederhana seperti membantu orang lain dapat membawa dampak positif yang besar, menciptakan lingkaran kebaikan yang merambah lebih jauh. Meskipun kita tidak mampu mengubah seluruh dunia, kita dapat membuat perbedaan di kehidupan seseorang.

Dengan demikian, melalui cerita ini, kita diajak untuk merenung tentang kekuatan kebaikan dalam menjalin hubungan antar manusia dan menciptakan kebahagiaan bersama. Kesimpulannya, dalam setiap perjalanan hidup, saat kita bersedia membuka hati untuk membantu, kita tidak hanya memberikan kebahagiaan kepada orang lain, tetapi juga menemukan kekayaan sejati dalam kebaikan itu sendiri. Cerita ini menjadi saksi bisu bahwa keajaiban terkadang terletak dalam tindakan sederhana yang penuh dengan makna.

“Kebahagiaan tercipta sesederhana saat kita saling membantu sesama, karena Ketika menolong orang lain sebenarnya kita sedang menolong diri sendiri.”

Karya: Muhammad Novan Heromando

Editor: Aaff

Semarang, 10 November 2023