Ilustrasi bullying: pinterest.com.

Bullying merupakan perilaku buruk yang disengaja dan dilakukan berulang kali dengan menggunakan fisik maupun psikologis untuk mengancam atau menyerang seseorang yang dapat mengakibatkan kerugian psikologis, hambatan perkembangan, dan lain sebagainya yang dapat merugikan seseorang (korban). Bullying ini terjadi karena ada kesenjangan kekuatan antara pelaku dan korban. Tindakan bullying tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi dapat berupa psikologis dan verbal. Bullying secara kekerasan fisik dapat berupa menendang, memukul, serta merusak hal-hal yang dimiliki korban. Bullying secara psikologis berupa intimidasi dan ancaman. Bullying secara verbal berupa kata-kata atau ucapan dalam bentuk panggilan nama, penggangguan, serta komentar seksual yang sangat tidak pantas yang keluar dari mulut pelaku bullying.

Bullying, terutama di sekolah telah menjadi masalah global. Sebagian besar anak-anak dalam usia sekolah sangat rentan menjadi korban bullying. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 30% anak-anak tingkat sekolah dasar atau 5,7 ribu anak setiap tahun mengalami bullying selama di sekolah baik sebagai pelaku, korban maupun keduanya (Storey, dkk, 2008). Kondisi di Indonesia tampaknya hampir sama, sebagaimana yang dilansir oleh Kompas.com (2011). Media tersebut mengungkapkan data kepolisian bahwa dari seluruh laporan kasus kekerasan, 30% di antaranya dilakukan oleh anak-anak, dan dari 30% kekerasan tersebut 48% terjadi di lingkungan sekolah dengan motif dan kadar yang bervariasi. (Hertinjung, n.d.).

Perilaku bullying berkembang dari berbagai faktor lingkungan yang kompleks. Faktor-faktor penyebab terjadinya bullying antara lain:

a. Keluarga

Sering menghukum anaknya secara berlebihan atau situasi rumah yang penuh permusuhan. Anak akan mempelajari perilaku bullying ketika mengamati konflik-konflik yang terjadi pada orang tua mereka, dan kemudian menirunya kepada teman-temannya.

b. Sekolah

Pihak sekolah seringkali mengabaikan perilaku bullying, serta memberikan masukan negative pada siswanya, misalnya berupa hukuman yang tidak membangun siswa untuk mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antar sesama anggota sekolah.

c. Faktor kelompok sebaya

Beberapa anak melakukan bullying dalam usaha untuk membuktikan bahwa mereka bisa masuk dalam kelompok tertentu, meskipun mereka sendiri merasa tidak nyaman dengan perilaku tersebut

d. Kondisi lingkungan sosial

Salah satu faktor lingkungan sosial yang menyebabkan tindakan bullying adalah kemiskinan. Mereka yang hidup dalam kemiskinan akan berbuat apa saja demi memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga tidak heran jika di lingkungan sekolah sering terjadi pemalakan antar siswa.

e. Tayangan televisi dan media cetak

Televisi dan media cetak membentuk pola perilaku bullying dari segi tayangan yang mereka tampilkan. Survei yang dilakukan kompas (Saripah, 2006) memperlihatkan bahwa 56,9% anak meniru adegan-adegan film yang ditontonnya, umumnya mereka meniru geraknya (64%) dan kata-katanya (43%) (Zakiyah, Humaedi, & Santoso, 2017).

Bullying memberikan efek negatif dalam perkembangan karakter baik bagi korban maupun pelaku. Akibat bullying pada korban yaitu timbulnya perasaan tertekan karena pelaku menguasai korban, korban mengalami kesakitan fisik dan psikologis, kepercayaan diri merosot, trauma, serba salah dan takut sekolah; mengasingkan diri; cenderung ingin bunuh diri. Selain itu, apabila dibiarkan, pelaku bullying akan merasa bahwa tidak ada risiko apapun bagi mereka melakukan kekerasan ataupun mengancam anak lain. Ketika dewasa, pelaku memiliki potensi untuk menjadi pelaku criminal dan akan bermasalah dalam fungsi sosialnya (Mudjijanti, 2011).

Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi masalah bullying oleh beberapa pihak di sekitar korban, salah satunya dari pihak sekolah. Guru memiliki peran menjadi social support, yaitu sebagai penyelesai masalah sosial melalui dukungan nyata. Guru dapat memberikan dukungan yang bersifat emosi dengan memberikan perhatian lebih kepada mereka yang rentan mengalami bullying melalui ekspresi yang bersifat psikologis dan menciptakan atmosfir yang bersahabat (Mudjijanti, 2011). Selain itu, sekolah dapat mengadakan program anti bullying, yaitu pencegahan penindasan anak-anak di sekolah maupun di lingkungan. Program ini adalah sebuah aktivitas yang dapat membuat seorang anak dengan yang sekitarnya lainnya dapat berbaur.

Upaya lain untuk mencegah dan mengatasi masalah bullying dapat dilakukan oleh korban. Seorang korban harus ingat bahwa ia tidak sendiri. Apapun masalah yang ia miliki bukan sepenuhnya kesalahan dia dan jangan memendam masalah itu sendiri, Ia dapat menceritakannya kepada orang yang dipercaya seperti sahabatnya. Selain itu, seberapa berat masalah yang ia hadapi, janganlah menyakiti diri sendiri dan jangan menindas balik orang yang menindas dia.

Bullying adalah perilaku yang disengaja dan dilakukan berulang kali dengan menggunakan fisik maupun psikologis kepada seseorang yang dapat merugikan orang lain. Bullying terutama di sekolah telah menjadi masalah global saat ini. Sebagian besar anak- anak sangat rentan menjadi korban Bullying. Perilaku Bullying pada anak disebabkan oleh beberapa faktor seperti keluarga, sekolah, kelompok sebaya, lingkungan sosial, tayangan televisi dan media cetak.

Bullying dapat memberikan efek negatif, baik kepada korban maupun pelaku itu sendiri dalam perkembangan karakter mereka. Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi masalah Bullying oleh beberapa pihak, salah satunya sekolah, serta dari diri korban sendiri.


Penulis: Manzilatus Shofiy

Editor: Rieke Aurelia