Dok. Khusus.

Pmiigusdur.com - Kegiatan Sekolah Kader (SK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Pondok Pesantren Al Amanah Semarang diisi dengan penyampaian materi bertajuk “Membedah Akar Pemikiran: Mengapa Kita Harus Belajar Filsafat Pra-Sokrates?” oleh Muhamad Syafiq Yunensa. Materi ini menekankan pentingnya filsafat sebagai fondasi dalam membangun nalar kritis dan kesadaran berpikir kader.

Dalam pemaparannya, Muhamad Syafiq Yunensa menegaskan bahwa filsafat bukanlah sesuatu yang rumit sebagaimana anggapan umum. “Filsafat itu sebenarnya mudah dan tidak perlu dibuat rumit. Setiap kali kita berpikir, saat itulah kita sedang berfilsafat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti stigma negatif terhadap filsafat yang masih berkembang di masyarakat, khususnya di negara berkembang. Menurutnya, filsafat kerap disalahpahami, serupa dengan cara pandang masyarakat terhadap budaya tertentu. “Filsafat memiliki semangat yang sama dengan budaya punk, sama-sama sering disalahpahami, tetapi mengajarkan keberanian untuk menjadi diri sendiri dan berpikir merdeka,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa filsafat tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga menjadi cara berpikir untuk bertahan hidup. Kemampuan mengenali diri sendiri dinilai sebagai kunci dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dalam praktiknya, ia menjelaskan bahwa berfilsafat mencakup dua hal utama, yaitu berpikir secara radikal dengan menggali akar persoalan hingga esensinya, serta berpikir rasional dengan menggunakan akal dalam memahami realitas.

Selain itu, ia mengkritisi fenomena dunia pendidikan yang dinilai terlalu berorientasi pada pencapaian gelar tanpa diimbangi pemahaman filosofis. “Jika pendidikan hanya menekankan gelar tanpa pemahaman, maka ia kehilangan esensinya sebagai alat pembebasan,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa di sejumlah negara maju, filsafat telah diajarkan sejak dini untuk melatih kemampuan refleksi dan kesadaran diri.

Dalam konteks organisasi, ia menegaskan bahwa kekuatan utama terletak pada kualitas anggotanya. Oleh karena itu, setiap kader didorong untuk berperan aktif dalam organisasi. “Jangan hanya bertanya apa yang organisasi berikan kepada kita, tetapi tanyalah apa yang sudah kita berikan kepada organisasi,” tegasnya.

Pada bagian lain, ia mengulas era Pra-Sokrates sebagai fondasi awal perkembangan filsafat Barat. Tokoh-tokoh seperti Thales disebut sebagai pelopor yang mulai menggeser cara pandang manusia dari mitos menuju penjelasan rasional. “Tanpa pemikiran dan perdebatan pada era Pra-Sokrates, tidak akan ada perkembangan filsafat besar di masa berikutnya,” ujarnya.

Melalui materi ini, peserta diharapkan mampu memahami filsafat sebagai upaya membebaskan diri dari cara berpikir yang sempit. Selain itu, kader juga didorong untuk mengembangkan nalar kritis, memahami realitas secara mendalam, serta berkontribusi secara nyata dalam kehidupan sosial dan organisasi.

Reporter: Adel

Editor: Lala