Dunia modern sering membuat orang berjalan terlalu cepat, sampai lupa menoleh ke belakang. Padahal di sanalah sejarah berdiam bukan untuk membuat kita terlelap dalam nostalgia, melainkan untuk mengingatkan arah. Nilai-nilai hidup pun bekerja dengan cara yang sama: ia mendorong kita maju, tetapi tetap menancapkan akar agar tidak tercerabut.
Di tengah arus itu, ada satu kalimat
sederhana yang terus terngiang dalam ingatanku: “Ojosampek kepaten obor.”
Jangan sampai obor itu padam. Sebuah pesan yang dulu terdengar biasa saja,
bahkan cenderung kuabaikan. Namun seiring waktu, kalimat itu perlahan menemukan
maknanya.
Aku mengingat masa-masa ketika masih kecil.
Setiap kali berkumpul bersama keluarga, orang tuaku kerap menyelipkan nasihat
di antara obrolan ringan. Tidak pernah terasa seperti ceramah. Tidak pula
seperti kewajiban yang mengikat. Hanya percakapan sederhana, yang waktu itu
terasa sepele. Aku mendengarnya, tapi tidak benar-benar menangkap isinya.
Baru ketika beranjak dewasa, aku mulai
memahami: itulah cara mereka menjaga agar obor itu tetap menyala. Bukan dengan
paksaan, melainkan dengan kebiasaan. Bukan dengan teori panjang, melainkan
dengan momen-momen kecil yang berulang.
Salah satu momen itu selalu berulang dengan
pola yang sama sebuah rutinitas yang dulu kuanggap biasa, namun kini terasa
hangat dan berarti. Dari situlah aku mulai menyadari, bahwa nilai dan ingatan
tidak diwariskan lewat kata-kata besar, melainkan lewat kebiasaan yang
sederhana.
Dan semua itu, selalu bermuara pada satu tempat yang tak pernah berubah.
Di Rumah Nenek
Rumah yang selalu kurindukan kini berdiri
tepat di depan mataku.
Rumah kayu tak berwarna, beratap genteng
yang setiap musim hujan basah, bahkan kadang ditembus air dari langit. Namun di
sanalah keindahan dan kehangatan itu tingga dan utuh dalam ingatan.
“Assalamu’alaikum, mbah,” ucapku sembari
melangkah masuk.
Nenek keluar dari bilik kamar, tersenyum
hangat.
“Wa’alaikumsalam, le. Kene langsung mangan
wae, kae mbah nggawe jangan lodeh.”
Aku pun duduk bersama bapak, ibu, dan kedua
kakakku.
Kami menikmati masakan khas yang dimasak
dengan arang dan kayu—nasi hangat, sayur lodeh yang pekat bumbu, ditemani
sambal terasi dengan aroma smokey yang khas. Hidangan sederhana, tapi rasanya
tak pernah kutemukan di restoran mana pun.
Di sela-sela makan, kami mendengar nenek
mengobrol dengan anaknya, sesekali menasihati cucunya.
“Saiki kelas piro, le?”
Obrolan mengalir tanpa henti, hingga nenek
berkata,
“Urip iku urup, lan ojo sampek kepaten
obor.”
Hidup itu harus menyala, jangan sampai
kehilangan nyala.
bapak mulai bertanya tentang silsilah
keluarga tentang pakdhe, om, mbah, buyut, hingga canggah. Kami tak berani
membuka ponsel. Semua larut dalam cerita, mencoba memahami akar kami sendiri.
“Kalau aku sama pakdhe ketemunya di mbah
siapa, nek?” tanyaku.
Nenek menjawab dengan sisa-sisa ingatannya.
Dari sanalah kami mendengar nama-nama yang asing, tapi terasa dekat. Kami tahu
kabar saudara yang jauh, yang tersebar di berbagai kota.
Dari situlah kehangatan itu semakin hangat,
dan ingatan semakin hidup.
Di rumah nenek, kami bukan hanya pulang
kami diingatkan.
Dan aku tahu, aku akan selalu merindukan rumah ini.
Karya: Adam Ahmad Alamsyah




0 Komentar