Judi online bukan hanya perihal persoalan moral dan eknomi, ia adalah persoalan dimana insting manusia dibajak habis oleh sistem yang dirancang cermat, banyak orang sering menyederhanakan penjudi sebagai “ tidak bisa membatasi dan mengontrol diri,” padahal ia lenih dari itu, ada sistem yang dirancang yang membuat orang terkunci dalam siklus tanpa henti.
Persoalannya bukan hanya tentang “menang
ataupun kalah, untung maupun rugi” ketika Kalah nalurinya berdesus” kali ini
belom hoki saja aku akan membuktikan bahwa aku bisa menang, aku sudah hampir
menang tinggal satu langkah lagi” disanalah muncul dorongan untuk membalas dan
membuktikan bahwa kekalahan itu tidak seharusnya terjadi , di fase inilah
kekalahan berubah menjadi ilusi harapan yang memaksa seseorang terus bermain.
Sebaliknya ketika menang, naluri manusia
justru semakin terjebak. Kemenangan tidak danggap sebagai kehokian sesaat
melainkan sebagai bukti kemampuan. Muncul rasa percaya diri semu “ Aku paham
polanya, main lagi ah pasti Jackpot lebih besar” di tahap inilah kendali akan
diri perlahan hilang.
Inilah yang membuat siklus judi sulit berhenti
secara cepat dan alami, kalah tidak menghentikan, menang semakin menguatkan,
dua kondisi yang seharusnya saling berlawanan justru mengarah pada satu hal yakni
“keterikatan”
Menurut saya, selama kita masih melihat judi
sebagai pilihan individu, kita akan terus gagal memahami apa yang menjadi akar
dari masalahnya,.ini bukan sesederhana perihal “mau berhenti atau tidak” tapi
tentang “apakah seorang penjudi mampu melawan intuisi semu yang dipermainkan
tersebut” dan dalam banyak kasus ia hampir mustahil berhenti tanpa intervensi,
baik dari lingkungan, aturan, ataupun kesadaran yang dipaksakan tumbuh.
Karena pada akhirnya, dalam judi, manusia tidak benar benar sedang membuat pilihan bebas. Padahal ia sudah diarahkan dan kemudian merasa bebas, maka disitulah letak bahayanya.
Karya: Adam Ahmad Alamsyah




0 Komentar