Ketua pelaksana dalam sambutannya menekankan pentingnya kader PMII memiliki penalaran yang tajam di tengah derasnya arus informasi. Ia menyampaikan bahwa kader harus mampu bersikap selektif terhadap berbagai isu yang berkembang, serta mengedepankan cara berpikir kritis dan filosofis dalam menyikapi realitas sosial.
Sementara itu, Ketua PMII Komisariat Gus Dur menyampaikan bahwa keikutsertaan mahasiswa dalam Sekolah Kader merupakan pilihan yang tidak biasa. “Mahasiswa pada umumnya hanya berfokus pada kegiatan perkuliahan, tetapi sahabat-sahabati yang hadir di sini memilih untuk berproses lebih jauh. Ini menunjukkan keberanian untuk berpikir kritis dan menyampaikan gagasan,” ujarnya.
Direktur Lembaga Kaderisasi (LKAP) juga menegaskan bahwa kader PMII dituntut untuk memiliki kepekaan terhadap kesadaran kritis dalam dialektika zaman. Ia berharap kegiatan ini mampu membentuk kader yang tidak hanya kritis, tetapi juga mampu berpikir secara komprehensif dan terstruktur.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisariat PMII Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo yang diwakili oleh Sahabat Angga mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan momentum Sekolah Kader sebagai ruang belajar dan pengembangan diri. Ia menegaskan bahwa kebebasan berpendapat dalam forum kaderisasi harus dimanfaatkan untuk mengasah pemikiran kritis. “Tetap semangat berproses dan jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan dalam mengikuti Sekolah Kader,” pesannya.
Kegiatan pembukaan ini diharapkan menjadi titik awal bagi para kader untuk mengembangkan nalar kritis yang berlandaskan nilai-nilai etika, serta mampu berkontribusi secara aktif dalam menjawab tantangan zaman.
Reporter: Aidil Maghfur
Editor: Lala




0 Komentar