66 tahun sudah usiamu, waktu yang panjang bagi berdirinya sebuah organisasi yang dijaga dengan hati yang penuh kehati-hatian, pergerakan mahasiswa islam Indonesia, namamu masyhur disemua kalangan, harapan tinggimu bertinta keabadian, dari zaman semangat idealismemu yang berkobar terang, hingga zaman yang arahnya kian remang-remang.
Aku hanyalah seorang kader pinggiran yang
sering jadi penonton dibanding pengambil keputusan, namun dari pinggiran itulah
aku sadar terkadang ruang sunyi lebih jujur tanpa kepalsuan.
PMII hari ini besar, tapi apakah masih
dalam?
Kadernya banyak tapi apakah masih tajam?
Kita sering bangga pada Sejarah tapi enggan
merawat nilai yang diwariskan
Kita sering terlena dengan masa lalu yang
meninabobokkan hingga membuat kita lupa PMII di masa depan, diskusi yang
berubah menjadi seremoni, ruang baca sepi tinggal mimpi-mimpi, rapat evaluasi
kehilangan peranan, rapat tahunan hanya jadi perayaan rutin peralihan jabatan.
Di titik ini aku diliputi kegelisahan, sebagai kader pinggiran aku tak mampumenyalakan solusi di gelap kebingungan. Namun setidaknya ada kecemasan dan kesadaran yang
terus menjadi dorongan bahwa PMII harus kembali menjadi ruang tumbuh bukan
sekadar ruang slogan-slogan.
Menjadi ruang untuk berfikir tanpa takut
penialian
Ruang berbicara tanpa takut penghakiman
Ruang berkembang tanpa takut dijatuhkan
Ruang berbeda tanpa takut diasingkan
Karena PMII hancur bukan karena kritik dan
saran tapi ia akan musnah jika orang orangnya memilih diam.
66 tahun seharusnya bukan hanya menjadi pesta
perayaan, tapi momentum untuk bertanya, “Apakah kita sedang berjalan kedepan,
mudnur kebelakang atau berputar-putar dalam kejumudan?"
Layaknya bunga yang terus tumbuh, bersemi
dan bermekaran, kader pinggiran ini berdoa, "Semoga yang engkau semogakan
tersemogakan."
Karya: Adam Ahmad Alamsyah




0 Komentar