Freepik.com

Jika kita membuka kembali lembar-lembar kisah terdahulu, banyak peristiwa telah terlewati. Pada 4 Mei 1886, di Haymarket Square, Chicago, sebuah bom meledak di tengah kerumunan demonstran dan polisi. Insiden itu menelan korban jiwa, menyulut persidangan kontroversial, dan mengubah sejarah gerakan buruh dunia. Namun, jauh sebelum ledakan itu, para pekerja telah turun ke jalan dengan satu tuntutan yang terdengar sederhana: delapan jam kerja, delapan jam istirahat, dan delapan jam untuk diri sendiri. Formula 8-8-8 yang begitu konkret, begitu manusiawi.

Sekarang, coba lihat sekelilingmu atau kaca di depanmu. Banyak pekerja tidak lagi memakai seragam atau antre lock-in di mesin absen. Cukup duduk di coffee shop, memakai baju santai, laptop terbuka, dan memiliki titel: freelancer, content creator, atau entrepreneur. Kelihatannya sangat merdeka, bukan? Tapi coba perhatikan lebih dekat kantung mata yang sama dengan satu abad lalu.

Dulu, sosok “penindas” itu jelas wujudnya: mandor galak yang membawa peluit. Sekarang? Mandornya pindah ke kantong celana. Atas nama “waktu kerja fleksibel”, kita pelan-pelan kehilangan privasi.

“Fleksibel” sering kali menjadi bahasa halus untuk “siap sedia 24/7”. Chat pekerjaan yang masuk pukul 10 malam, notifikasi revisi di hari Minggu, sampai algoritma media sosial yang memaksa kita terus update jika tidak ingin tenggelam. Tanpa sadar, mandor digital ini perlahan merampas jatah delapan jam istirahat yang dulu diperjuangkan mati-matian di Chicago.

Inilah ironi paling lucu (sekaligus paling menyedihkan) dari jargon “be your own boss”. Ternyata, saat kita menjadi bos bagi diri sendiri, kita justru cenderung menjadi bos yang paling kejam.

Karena tidak ada batasan kerja yang jelas, membuat terjebak dalam hustle culture. Kita merasa bersalah jika hanya duduk diam tanpa menghasilkan sesuatu. Kita memeras tenaga sendiri atas nama produktivitas dan pencapaian. Di titik ini, kita adalah buruh sekaligus majikannya. Kita yang menyuruh lembur, kita juga yang merasakan lelahnya. Dan anehnya, kita tidak bisa protes kepada siapa pun, karena pelakunya adalah diri sendiri.

Semangat Hari Buruh tidak boleh berhenti di buku sejarah atau sekadar pawai di jalanan. Medannya sudah berubah. Jika dulu perjuangannya adalah melawan jam kerja yang tidak manusiawi di pabrik, perjuangan kita sekarang adalah berani membuat batasan (boundaries).

Merdeka di era digital berarti:

- Berani mengatakan “tidak” pada pekerjaan di luar jam produktif.

- Memahami bahwa kesehatan mental bukanlah reward, melainkan hak dasar.

- Menuntut regulasi yang lebih adil bagi pekerja lepas (gig economy) yang sering kali tidak memiliki jaring pengaman.

Solidaritas hari ini bukan hanya soal turun ke jalan, tetapi juga tentang saling mendukung untuk berani “beristirahat” tanpa rasa bersalah.

Merayakan Hari Buruh di era sekarang adalah sebuah pengingat penting: kebebasan sejati bukan sekadar lepas dari sekat kubikel kantor. Kebebasan sejati adalah ketika kita memiliki ruang untuk bernapas dan menyadari bahwa nilai diri kita tidak hanya diukur dari seberapa banyak tugas yang selesai hari ini.

Kita manusia, bukan sekadar baterai yang terus-menerus diisi ulang hanya untuk dikuras habis lagi.

Selamat Hari Buruh. Yuk, tutup handphone sebentar.

Oleh: Nadiya