Dok. Khusus.

    Pmiigusdur.com - Kegiatan Sekolah Kader (SK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Abdurrahman Wahid yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Amanah Semarang menghadirkan materi bertajuk Pendidikan Kritis pada Minggu (26/04/26). Materi tersebut disampaikan oleh Iftahfia Nur Iflahani dan membahas pentingnya pendidikan sebagai alat pembebasan sekaligus sarana memanusiakan manusia.

    Dalam pemaparannya, Iftahfia menjelaskan pemikiran tokoh pendidikan kritis, Paulo Freire, khususnya kritik terhadap konsep pendidikan gaya bank. Menurutnya, sistem pendidikan tersebut menempatkan siswa seolah-olah sebagai wadah kosong yang hanya menerima pengetahuan dari guru, tanpa memberikan ruang untuk menggali potensi dan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik.

    “Manusia itu jangan dianggap tidak tahu apa-apa, karena sejatinya manusia memiliki pengetahuan, hanya saja pengetahuan tersebut perlu digali,” ujar Iftahfia saat menyampaikan materi.

    Ia juga mengajak peserta merefleksikan kondisi pendidikan saat ini yang dinilai masih belum merata. Menurutnya, akses pendidikan berkualitas kerap dipengaruhi kondisi ekonomi, sehingga peserta didik dari kalangan mampu memiliki kesempatan lebih besar dibandingkan mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.

    Selain membahas kritik terhadap sistem pendidikan, Iftahfia turut memaparkan solusi yang ditawarkan Paulo Freire melalui konsep pendidikan hadap masalah (problem-posing education). Dalam konsep tersebut, proses pembelajaran tidak hanya menempatkan murid sebagai penerima materi, tetapi juga melibatkan guru dan peserta didik untuk bersama-sama memecahkan persoalan yang dihadapi.

    Lebih lanjut, ia menjelaskan tiga tahapan kesadaran manusia menurut Paulo Freire, yaitu kesadaran magis, kesadaran naif, dan kesadaran kritis. Kesadaran magis menggambarkan kondisi seseorang yang terjebak dalam rasa rendah diri dan menerima keadaan begitu saja. Kesadaran naif merupakan tahap ketika seseorang cenderung menyalahkan diri sendiri maupun masa lalu atas persoalan yang terjadi. Sementara itu, kesadaran kritis menjadi tahap ketika seseorang mampu memahami akar permasalahan serta bertindak untuk melakukan perubahan.

    Pada akhir sesi, Iftahfia mengajak peserta untuk lebih peduli terhadap persoalan pemerataan pendidikan di Indonesia. “Paling tidak, untuk pemerataan pendidikan, kita memikirkan satu solusi,” ungkapnya.

    Melalui materi ini, peserta diharapkan mampu memahami pentingnya pendidikan kritis sebagai sarana membangun kesadaran sosial, sekaligus mendorong lahirnya sikap reflektif dan solutif dalam menghadapi persoalan pendidikan di masyarakat.

Reporter: Alya

Editor: Lala