doc.freepik.

OLEH: NAJH DFM

Di sebuah desa terpencil berhiaskan langit mendung berbalut gundukan awan hitam berdiri kokoh sebuah rumah panggung tua terlihat begitu lapuk beralaskan lantai berderit setiap kali diinjak bak ranting kering yang siap patah tak layak untuk di tempati. Dinding kusam di balik jendela besar kian menelan ribuan sinar baskara di pagi buta menghadirkan ribuan rintik sendu berujung semu mengharap tumbuhnya keceriaan.

Suasana desa dari kejauhan memang nampak begitu tenang seperti air danau yang mengalir begitu damai, gesekan ranting pohon sama menari menghasilkan sebuah irama yang begitu merdu menyibak keheningan. Namun tidak dengan Aletha seorang gadis berumur tiga belas tahun yang dikenal sebagai gadis pendiam, pemilik suara pelan nan lembut nyaris tak terdengar bak tiupan angin ditengah riuhnya badai. Baginya ketenangan itu hanyalah sebuah topeng belaka menyimpan ribuan luka yang tak pernah terucap, jeritan rasa sakit yang tak pernah terluap, bahkan curhatan hati yang tak pernah tercatat.

semburat siluet jingga kian merata memenuhi langit di ufuk barat, samar bayang sang purnacandra pun mulai nampak bersama ribuan gemerlap kejora kian menari di angkasa lepas, kini Aletha tengah terduduk di teras rumah panggung di tepi jendela, menatap luasnya cakrawala yang perlahan mulai menggelap menanti kedatangan ibunya.

“Letha, ibu pulang…..” teriak wanita paruh baya begitu antusias dari kejauhan dengan langkah tertatih berusaha untuk menyembunyikan kelelahanya.

Sementara itu ayahnya yang seharusnya bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka justru malah terduduk santai diatas bangku reyot sembari memegang botol, seperti sedang mencari celah untuk meluapkan kemarahan.

Gemericik suara air sayup terdengar menyibak gelapnya langit malam menciptakan sebuah ketakutan bagi Aletha, karena setiapkali malam tiba hanya teriakan serta luapan amarahlah yang selalu bergema di gendang telinganya.

Kini Letha benar-benar duduk termenung seorang diri sembari memeluk lutut di teras rumahnya menatap langit gelap tanpa bintang yang berhiaskan gemuruh halilintar disertai kilat menyambar, berharap langit mendengar secercah harapan yang tengah ia gantungkan di balik rahasia alam.

Malam itu ayah Aletha pulang dengan keadaan mabuk lebih parah dari hari sebelumnya, berjalan dengan langkah sempoyongan masuk kedalam rumah tanpa menghiraukan keberadaan Aletha yang sampai sekarang masih terduduk tenang memandangi luasnya cakrawala begitu mendalam.

“PYYARR…” 

Seketika terdengar suara pecahan kaca dari dalam rumah, membuat Aletha sontak berdiri membubarkan lamunanya, ia pun segera berlari menuju tempat dimana suara itu berasal dan mendapati ibunya sudah tersungkur diatas lantai merintih kesakitan.

“ Ayah stop, Jangan pukul ibu lagi!” pekik Aletha dengan suara bergetar ketakukan.

“AHH, MINGGIR KAMU!” Pekik ayahnya dengan mata merah menyulat penuh amarah disertai nafasnya yang begitu menyengat mengeluarkan bau alkohol.

 Setelah sedikit menjauh, dengan sigap Aletha pun segera berlari nekat memegang tangan ayahnya agar berhenti melukai ibunya, namun siapa sangka jika tangan kekar yang dulunya penuh kelembutan itu telah menepis tubuh mungilnya amat sangat keras hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.

 Kini suasana rumah telah berubah begitu mencengkam, membuat batin Aletha semakin terkenan oleh keadaan tapi tak bisa ia ungkapkan, pipi kirinya mendadak panas kala tangan kasar itu berhasil menamparnya.

“Cukup!, Kau boleh sakiti aku tapi jangan sakiti anakku!” Bentak seorang ibu dengan hati begitu tersayat melihat anaknya sedang menjerit kesakitan.

Mata Aletha begitu berkaca-kaca berusaha untuk menyembunyikan ribuan penderitaan dalam hati mungilnya, suaranya pun seketika terkunci tak kuasa ia keluarkan. Kini hanya bayang semu yang dapat memeluk luka, menatap dalam penuh makna pada langit malam gelap gulita nan jauh disana.

“LANGIT, KAN KU GANTUNGKAN BERJUTA HARAPAN BERSAMA RIBUAN BINTANG DITENGAH TERANGNYA SINAR REMBULAN MENGHARAP KAU MENDENGARKAN SAYUP RINTIHAN PENDERITAAN YANG SELAMA INI TERPENDAM DALAM SANUBARI BEGITU DALAM” Batin Aletha kala menatap gelapnya lagit malam tanpa bintang berselimut awan hitam seakan sedang berpihak padanya.

                               ***

Sekolah menengah Bhakti mulia merupakan salah satu tempat yang memberikan sedikit kenyamanan bagi Aletha meski tak sepenuhnya.

Seragam sekolah yang terlihat lusuh tak layak pakai dengan rambutnya yang acak acakan jarang tertata membuatnya sering mendapatkan ejekan dari beberapa teman sekolahnya.

“Hati-hati kalau dekat dengan dia, bisa-bisa nanti ketularan miskin, bisik beberapa anak dari tepi koridor.

Lagi-lagi hati mungil nan sangat lembut milik Aletha kembali tertusuk oleh kata-kata yang sering menggema di gendang telinganya, tanpa menghiraukan Aletha pun tetap melanjutkan perjalananya menuju kelas dengan langkah tertunduk sembari memeluk buku yang ia genggam begitu erat seolah merupakan sebuah perlindungan kecil baginya.

Hanya Eveline salah satu teman yang peduli akan keadaan Aletha. Mendekatinya dan mulai sedikit bertanya apa yang sebenarnya terjadi padanya kala ia mendapati begitu banyak luka lebam di lengan Aletha.

“Letha, apa yang terjadi denganmu, mengapa begitu banyak luka lebam di pergelangan tanganmu?” lirih Eveline bertanya dengan nada super lembut berusaha membuat Aletha nyaman, namun hanya mendapatkan gelengan kepala dari Aletha.

“Kau mungkin bisa menyembunyikan semua itu dariku tapi mata dan tanganmu tak bisa lagi berbohong letha..,” Batin Eveline.

Kini waktupun tak pandai memeluk luka menggantungkan ribuan keluh kesan yang ingin ia utarakan namun bingung dari mana harus memulainya.

“JATUH,” Pekik letha spontan sembari menutup lukanya.

Meski Eveline tahu jika Letha telah berbohong padanya tapi ia tak memaksanya. Ia hanya sedikit menghela nafas dalam tak tega melihat keadaan Letha.

“Letha, aku tau kamu kuat, tapi tolong kalau butuh bantuan bilang ya, aku ada kapanpun kamu membutuhkanya!” bujuknya untuk menenangkan sembari mengusap lembut punggung tangan Aletha.

Aletha tersenyum samar menatap wajah teduh Eveline, jujur sebetulnya ia ingin sekali bercerita mengungkapkan semua lara tapi takut semua orang tak percaya jika rumah tua miliknya lah tempat tertibnya semua kemalangan yang ada.

Kejadian kala itu kembali terulang, sepulang Aletha dari sekolah ia mendapati ibunya sudah tergeletak lemah tak sadarkan diri dengan luka lebam memenuhi paras cantiknya.

“Ayah, Apa yang telah ayah lakukan?” bentaknya penuh penekanan.

“CUKUP!” pekiknya kembali, Letha capek yah!”

Seketika ayahnya membeku mendengar rintihan anaknya, baru kali ini hati kecil ayahnya tersentuh dengan kata-kata yang Letha ucapkan.

Namun semua itu begitu cepat berlalu, kini ayahnya kembali emosi sebab pengaruh alkohol yang masih menguasai jiwa ayahnya.

Botol kaca pun seketika melayang, Dengan sigap Letha menundukkan kepalanya hingga botol tersebut berhasil pecah mengenai dinding rumahnya.

Tetangga akhirnya mendengar keributan yang tercipta dari balik dinding rumah Letha, pintu pun berhasil di dobrak menampilkan seorang paruh baya yang masi tergeletak tak sadarkan diri dan Letha yang masih menangis histeris di pojok seolah sedang berlindung.

Sebab tidak tega melihat apa yang sedang di alami oleh Letha, Eveline yang kebetulan lewat pun akhirnya segera menghubungi kepala desa untuk membantu menyelesaikan semuanya.

“PAK TOLONG HENTIKAN!, INI UDAH SANGAT MELEWATI BATAS KASIAN ANAK DAN ISTRIMU!” bentak pak Darman selaku kepala desa sambil menahan tangan ayah Letha yang semakin meronta.

“Jangan pukul aku, tolong jangan sentuh aku!” Ucap Letha ketakutan saat Eveline mulai mencoba menghampiri Letha.

“Letha ini aku Eveline, kamu jangan takut!, ada aku disini,” Gumam Eveline sedikit menenangkan dan membawa tubuh Letha yang masih terisak lemah ke dalam dekapannya.

Dalam batin Aletha sangat bersyukur, ini adalah kali pertamanya ada yang masuk kedalam rumahnya untuk menghentikan perbuatan ayahnya, kini langit tak lagi menutup telingganya, akhirnya Letha merasa langit sudah tak lagi jauh darinya menampung segala lara yang ia gantungkan di ujung cakrawala.

***

Sirene suara ambulance kian menggema memenuhi seluruh desa kecil di ujung kota, desit suara roda brankar kian terdengar dari koridor ruangan, setelah kurang lebih tiga puluh menit akhirnya Letha bersama ibunya pun tiba di sebuah gedung megah berwarna putih yang sering di sebut rumah sakit.

Suster pun mulai memeriksa luka-luka lebam di tubuh Aletha sedangkan ibunya yang sampai saat ini belum juga sadarkan diri masih di tanggani oleh dokter di ruang IGD.

Setelah selesai di obati, Letha memutuskan untuk menjenguk ibunya di IGD, ia sangat tidak tega melihat ibunya yang sampai saat ini  masih terbaring lemah di atas brankar rumah sakit dengan mukanya membengkak di penuhi lebam.

Rasanya ia ingin sekali marah, menangis, bahkan menjerit melihat semua itu, hingga membuat Eveline semakin tidak tega dengan keadaanya . 

“Leth, sabar ya, aku tau semua ini pasti begitu berat buat kamu,” gumam Eveline dengan suara lembut sembari sesekali menggusap punggung Aletha.

“Makasi banyak ya lin, kamu udah mau bantu aku, aku cuma masih takut aja dengan semua yang telah terjadi.”

“Sama-sama Leth, jangan takut, aku tau kamu hebat, aku tau kamu kuat, kamu pasti bisa melewati semuanya, kalau kamu butuh apa-apa bilang aja, ada aku kok yang akan selalu ada buat kamu.”

Kalimat itu begitu asing di telingga Aletha, namun terasa sangat hangat memeluk raga nan sukma.

***

Beberapa minggu kemudian di bawah renungan langit senja Aletha terduduk memandangi indahnya siluet senja berhiaskan kicauan merpati kian bernyanyi menyusun tempo nan amat merdu selembut sutra.

Kini ibu Aletha tengah berada di rumah perlindungan di desanya sedangkan ayahnya masi dalam proses hukum untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatanya.

Meski hidup terasa begitu sulit bagi Aletha, namun semangatnya tak pernah sama sekali berhenti membara. Kini Letha tak lagi berjuang seorang diri menghadapi semua masalahnya, ada Eveline yang selalu membersamai setiap langkahnya.

Dengan senyum begitu teduh Letha memandang langit yang munkin telah mendengar segala keluh kesahnya.

“LANGIT TERIMAKASI TELAH MENAMPUNG SEGALA KELUH KESAHKU SELAMA INI, TERIMAKASI TELAH MENJADI PELIPUR LARA MENJADI SAKSI BISU ATAS TUMPAHNYA RINTIK SEMU MENJADI PENGHIAS DI DALAM BARISAN RUANG SENDU” 

“TUHAN, TERIMAKASI JUGA ATAS SKENARIO YANG TELAH KAU TULISKAN UNTUK MENJADI TAKDIR TERINDAHKU, DARI SITULAH AKU MULAI MENGERTI BAHWA HIDUP TAK HANYA SOAL RINDU YANG TERLUKIS DALAM INDAHNYA DERETAN KALBU”


NAMA: DWI FATMA MAHFUDLOH

Editor : Sabillah