Dok.khusus


Diskusi Tematik bertemakan "Renungan Kemerdekaan: Merawat Perubahan, Meruwat Perjuangan" digelar oleh Lembaga Kajian dan Penerbitan PMII Rayon Abdurrahman Wahid di Depan Kampus 3 UIN Walisongo Semarang pada Senin (17/08/26). Kegiatan ini dihadiri oleh para kader PMII.

Diskusi tersebut menghadirkan Sahabat Iqbal Mujahid sebagai pemateri yang membahas peran pemuda dalam perlawanan, politik, dan hagemoni kekuasaan hari ini.

Dalam paparannya, Iqbal menjelaskan bahwa kerja rodi dulu bukan kerja paksa, tetapi adanya penyalahgunaan dan korupsi, hingga akhirnya didobrak oleh para pemuda dengan membawa identitas daerah.

_"Kerja rodi dulu sebenarnya bukan kerja paksa, tetapi diduga adanya penyalahgunaan dan korupsi dari para penguasa, hingga akhirnya didobrak oleh para pemuda dengan membawa semangat budaya dan identitas daerah untuk mengubah sistem yang dianggap menyiksa,"_ ujar Iqbal di hadapan audiens.

Iqbal juga menerangkan untuk menekan hegemoni kekuasaan, perlawanan itu dapat melalui pendidikan, karena pendidikan adalah ruang penting untuk membangun nalar kritis dan memahami ketimpangan.

_"Untuk menekan hegemoni kekuasaan, perlawanan salah satunya melalui pendidikan. Pendidikan menjadi ruang penting untuk membangun nalar kritis serta memahami ketimpangan, sehingga tidak sekadar menerima kebijakan dan kepentingan yang dibentuk oleh pihak yang berkuasa. Dengan demikian, disamping menjadi sarana memperoleh pengetahuan, pendidikan juga menjadi bentuk perlawanan terhadap hegemoni kekuasaan dan jalan menuju perubahan sosial,"_ jelasnya.

Selanjutnya, Iqbal menyoroti rapuhnya demokrasi hari ini bukan lagi bersifat inklusif, melainkan cenderung mengejar stabilitas.

_"Demokrasi itu bukan tujuan, melainkan wadah bagi masyarakat. Politik juga bukan tujuan, tetapi seni dalam mengelola perbedaan. Namun, demokrasi yang asalnya bersifat inklusif dan menjadi unsur perlawanan justru hari ini cenderung mengejar stabilitas,"_ paparnya.

Tak hanya itu, Iqbal juga memberikan pesan kepada para pemuda untuk mampu mencerna media sosial dengan bijak, sebab media adalah alat politik yang dapat menggiring pandangan publik.

_"Sejarah tidak berulang, tetapi polanya bisa sama. Maka, pemuda hari ini harus mampu mencerna media sosial dengan bijak, sebab media merupakan alat politik yang dapat menggiring pandangan publik. Dan pemuda hari ini harus literasi terhadap digital sehingga tidak menerima informasi secara mentah-mentah,"_ pungkasnya.

Kemudian diskusi dilanjut dan diakhiri dengan sesi tanya jawab.


Penulis: Wildan

Editor: Aidil