freepik.com
Setiap sore, lampu merah di ujung gang menjadi saksi bisu keriuhan remaja kampung Merpati. Di sanalah Raka dan kawan-kawannya biasa menghabiskan waktu dari nongkrong, menderu-derukan mesin motor, sampai kadang melakukan hal-hal yang membuat para tetangga menggelengkan kepala.
Raka bukan anak jahat. Setidaknya, itulah yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri. Ia hanya merasa hidupnya terlalu sunyi di rumah. Ayahnya seorang pekerja proyek yang lebih sering berada di luar kota, pulang sebulan sekali bahkan bisa sampai 3 minggu sekali, sementara ibunya sudah tenggelam dalam kesibukan berdagang dari pagi hingga malam. Sepulang sekolah, yang ia temui ketika sampai dirumah adalah dinding-dinding bisu dan televisi yang menyala tanpa suara.
Berbeda ketika bersama Kawan-kawannya. Bersama mereka, Raka merasa "hidup" dan bisa melakukan apapun yang ia inginkan. Merokok di balik warung, bolos sekolah, balapan motor di jalan sepi. Semua itu terasa seperti pelarian dari rasa sepi yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Suatu malam, ide nekat muncul dari Dimas, salah satu kawannya. "Kita cat tembok belakang sekolah yuk, biar terkenal" tantangnya sambil tertawa. Raka ragu, tapi gengsi menahannya. Ia tak ingin dianggap pengecut. Dan merekapun sepakat melakukan aksi nekat ini.
Malam itu gelap dan sunyi, mereka menyelinap melalui pagar untuk meminimalisir ketahuan. Dirasa aman tak ada orang, disitulah mereka mulai menjalankan aksi. Tembok sekolah yang biasanya terlihat biasa saja mendadak terasa mengancam. Saat cat mulai menyentuh dinding, suara sirene memecah keheningan. Satpam sekolah muncul dari sudut bangunan berteriak, dan mereka berlarian. Raka yang panik terjatuh saat menaiki pagar yang tak seberapa itu. Lututnya menghantam aspal jalan berdarah merah kental, dan sebelum sempat bangkit, tangannya sudah digenggam kuat.
Pagi harinya, Raka duduk tertunduk di ruang kepala sekolah dengan perasaan takut ditemani sang ibu yang diliputi rasa kecewa. Tak ada bentakan. Hanya keheningan yang terasa jauh lebih menyakitkan.
“Kenapa, Rak?” tanya ibunya, suaranya purau.
Pertanyaan itu membuat dada Raka sesak. Untuk pertama kalinya, ia menangis di depan orang lain. Ia tumpahkan segalanya, tentang rumah yang terasa hampa, tentang ingin dianggap ada, dan tentang ketakutannya akan kesepian.
Hukuman tetap dijatuhkan. Raka wajib membersihkan halaman sekolah selama sebulan dan membuat surat pernyataan. Tapi yang paling berat bagi Raka bukan hukuman itu. Melainkan tatapan ibunya yang menyiratkan kekecewaan, sekaligus sisa-sisa harapan.
Hari-hari berikutnya, Raka melewati lampu merah di ujung gang sendirian. Dimas dan yang lain nongkrong seperti biasa dan menyapa ketika Raka lewat, tapi Raka memilih pulang. Ia mulai membantu ibunya di warung dan kembali mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh.
Lampu merah itu tetap menyala setiap sore. Namun bagi Raka, cahaya itu bukan lagi tempat berhenti. Ia adalah tanda bahwa hidup pernah memberinya peringatan, dan ia memilih untuk tidak menerobosnya lagi.
Penulis : Raya BriliantEditor : Nadiyya




1 Komentar
kerenn bangett🤩😘
BalasHapus